SELANGKAH KAKI DI GUNUNG BATU

Gunung Batu terletak di Desa Sukamakmur, Jonggol,Jawa Barat. Dari arah Jakarta, tidak jauh setelah Pasar Cariu, kita akan sampai di pintu masuk Gunung Batu. Kita bisa menuju ke sana melalui Gunung Batu1 dan Gunung Batu2. Jika melalui Gunung Batu1,kita akan dihadapkan dengan jalan yang benar-benar mendaki, nanjak terus. Pastikan kendaraan yang kita gunakan benar-benar dalam kondisi yang bagus. Medan yang berat bikin motor merayap, seru dan menegangkan. Perjalanan akan lebih mudah jika kita melalui Gunung Batu2. Jalanan lebih mulus dan bisa dibilang kita tidak menemui tanjakan ekstrim, kecuali setelah melalui pertigaan dan bertemu dengan jalan yang berasal dari Gunung Batu1.

Jalan Utama Gunung Batu1 by Lia Hijihawu

Gunung Batu Dari Kejauhan by Lia Hijihawu   Mejeng bareng suami di Gunung Batu by Lia Hijihawu

Di sepanjang perjalanan, cuaca yang sejuk menghijau memanjakan mata. Di sini, buka sejenak masker atau kaca mobil kita. Kita bisa menghirup wanginya cendana yang semerbak. Baca lebih lanjut

TOURING PERDANA

Menyadari kemampuan bermotor saya yang amatir, saya baru berani berkendara seputar mengantar dan menjemput anak berangkat dan pulang sekolah yang berjarak sekitar 3 km. Bapaknya bilang, perkara ngebut soal nyali, tinggal tarik gas saja. Sedangkan pembuktian keahlian justru di saat kendaraan berjalan lambat alias di kemacetan. Saat macet, diperlukan keahlian, kesabaran dan kematangan emosi. Tertib berkendara, bernyali tanpa harus seruntulan di jalan.

Perlengkapan keamanan standar biker by Lia Hijihawu Baca lebih lanjut

HARUS BERDIRI

Seiring bertambah usia, ketangguhan fisik mulai menurun. Apalagi olah raga yang minim, membuat badan mudah merasa lelah. Teringat dulu saat masih imut berbelas-belas, naik turun gunung asik-asik saja, hiking hayu, berkemah apalagi. Sekarang? Harus dibuktikan lagi, meskipun sudah pesimis duluan. Hehe..

Saat kecil dulu, toko buku yang luas dan nyaman, baru ada
Gramedia saja. Meskipun cukup jauh dari rumah, menjadi tujuan belanja yang menyenangkan. Kami betah, saya dan ibu saya untuk berlama-lama di sana. Love u, Mom.

Setelah kedua anak-anak saya sekolah, berkunjung kembali ke sana tetap saja menggembirakan. Jujur, kadang jika bersama anak-anak, saya malah kerepotan menjaga anak-anak agar lebih tertib tidak berlari-lari, senggol kiri dan kanan. It’s me time. :)

Ternyata oh ternyata, sekian lama berdiri, kaki mulai pegal, jongkok jelas nggak banget, selonjoran kebangetan, duduk bersila sepertinya boleh nih. Ehhh, ga tahunya di lantai ada tulisan ini:

Dilarang duduk di lantai Baca lebih lanjut

TOLEHAN MAUT

Selama ini saya biasa jadi boncenger, dibonceng Bapaknya anak-anak. Serunya jadi boncenger, pandangan leluasa, kiri kanan, depan asik-asik saja. Terkadang rasanya mendebarkan saat motor nyalip, atau nyelip di kemacetan. Kalau ngeri, saya merem, karena kalau dilihat dari belakang seperti mau duel kambing, sudah jelas truk tronton yang ada di depan. Hihi… Satu lagi nih puyengnya jadi boncenger, saat melibas jalan yang gerowak, alias berkubang tanpa air, kepala rasa dikocok. Ampun banget! Baca lebih lanjut

RUMAH MASA DEPAN

Di depan tempat saya berdiri, terhampar kebun lengkuas dan serai yang luas. Sejauh mata memandang, berderet rumpun bambu yang daunnya menghijau kembali setelah hujan sering menyapa tanah ini.

Pagi saat saya gowes bersama anak-anak menyusuri jalan yang membelah kebun, terdapat empat sampai lima kuburan. Mungkin ini tanah milik keluarga pikir saya waktu itu. Kemudian di beberapa tempat lainnya saya menemukan kembali kelompok kuburan dalam jumlah yang sama. Baca lebih lanjut