TOURING PERDANA

Menyadari kemampuan bermotor saya yang amatir, saya baru berani berkendara seputar mengantar dan menjemput anak berangkat dan pulang sekolah yang berjarak sekitar 3 km. Bapaknya bilang, perkara ngebut soal nyali, tinggal tarik gas saja. Sedangkan pembuktian keahlian justru di saat kendaraan berjalan lambat alias di kemacetan. Saat macet, diperlukan keahlian, kesabaran dan kematangan emosi. Tertib berkendara, bernyali tanpa harus seruntulan di jalan.

Perlengkapan keamanan standar biker by Lia Hijihawu Baca lebih lanjut

HARUS BERDIRI

Seiring bertambah usia, ketangguhan fisik mulai menurun. Apalagi olah raga yang minim, membuat badan mudah merasa lelah. Teringat dulu saat masih imut berbelas-belas, naik turun gunung asik-asik saja, hiking hayu, berkemah apalagi. Sekarang? Harus dibuktikan lagi, meskipun sudah pesimis duluan. Hehe..

Saat kecil dulu, toko buku yang luas dan nyaman, baru ada
Gramedia saja. Meskipun cukup jauh dari rumah, menjadi tujuan belanja yang menyenangkan. Kami betah, saya dan ibu saya untuk berlama-lama di sana. Love u, Mom.

Setelah kedua anak-anak saya sekolah, berkunjung kembali ke sana tetap saja menggembirakan. Jujur, kadang jika bersama anak-anak, saya malah kerepotan menjaga anak-anak agar lebih tertib tidak berlari-lari, senggol kiri dan kanan. It’s me time. :)

Ternyata oh ternyata, sekian lama berdiri, kaki mulai pegal, jongkok jelas nggak banget, selonjoran kebangetan, duduk bersila sepertinya boleh nih. Ehhh, ga tahunya di lantai ada tulisan ini:

Dilarang duduk di lantai Baca lebih lanjut

TOLEHAN MAUT

Selama ini saya biasa jadi boncenger, dibonceng Bapaknya anak-anak. Serunya jadi boncenger, pandangan leluasa, kiri kanan, depan asik-asik saja. Terkadang rasanya mendebarkan saat motor nyalip, atau nyelip di kemacetan. Kalau ngeri, saya merem, karena kalau dilihat dari belakang seperti mau duel kambing, sudah jelas truk tronton yang ada di depan. Hihi… Satu lagi nih puyengnya jadi boncenger, saat melibas jalan yang gerowak, alias berkubang tanpa air, kepala rasa dikocok. Ampun banget! Baca lebih lanjut

RUMAH MASA DEPAN

Di depan tempat saya berdiri, terhampar kebun lengkuas dan serai yang luas. Sejauh mata memandang, berderet rumpun bambu yang daunnya menghijau kembali setelah hujan sering menyapa tanah ini.

Pagi saat saya gowes bersama anak-anak menyusuri jalan yang membelah kebun, terdapat empat sampai lima kuburan. Mungkin ini tanah milik keluarga pikir saya waktu itu. Kemudian di beberapa tempat lainnya saya menemukan kembali kelompok kuburan dalam jumlah yang sama. Baca lebih lanjut

MERUMPUT

Anda suka sepakbola? Saya suka nonton bola. Ketiga saudara saya laki-laki semua yang gemar bermain dan melihat pertandingan bola di lapangan dekat rumah dan di layar kaca. Karena saya satu-satunya anak perempuan, jadilah saya ketularan kehebohannya.

Sepakbola, menurut saya ia salah satu olahraga dengan busana tersopan selain karate, wushu, dsb. Bebas dari pemandu sorak yang berbaju minim dan sangat ketat. Perhatikan saja ketika para pemain memasuki lapangan, justru mereka diiringi para junior yang imut dan lucu.

Mulai ngeh tentang dunia bola sekitar awal 90-an. Di keluarga semua kompak nonton bola. Apalagi jika yang bermain Ruud Gullit, Frank Rijkard, Ronald Koeman, kenapa Tim Oranye semua ya? Para pemain ini dulu sedang jaya-jayanya. Berbicara tentang jaya , saya jadi teringat pelatih Jaya Hartono, pelatih favorit selain Pep. Untuk kiper saya suka David Simmons dan Barthez. Tahun dua ribuan Zinedine Zidane, tentu saja. Sekarang Messi. Baca lebih lanjut