Di Ujung Tanduk

Mudik ke Payakumbuh dengan sepeda motor adalah perjalanan terjauh saya bersama suami. Saatnya kembali ke Bogor, meninggalkan berbagai pesona keindahan alam dan keramahannya, menyisakan kepingan hati dan kembali pulang dengan salah satu pria ganteng dari sana. Ting.

Berangkat dari Tanjung Pati pukul 05.40 WIB rupanya masih terlalu pagi bagi kami menembus tebalnya kabut di Lintau. Kami memutuskan pulang melewati Bukittinggi dan Danau Singkarak.

Dermaga Ombilin

Dermaga Ombilin

Beristirahat sejenak di Dermaga Ombilin, perjalanan dilanjutkan sampai di Masjid Babussalam, Simpang Empat, Dharmasraya. Setelah melewati Muara Bungo, Taman Anak dan Lansia, Jambi, kami beristirahat di Masjid Yachrumi Nafi’ah, Sarolangun. Tepat di seberang masjid adalah pom bensin tempat kami ngopi di dinihari di saat berangkat sebelumnya.

Start dari pom bensin jam 19.55 WIB. Jalan masih ramai. Melewati pom bensin kembali, kendaraan mulai berkurang selain penduduk setempat dan beberapa pemuda yang nongkrong. Jalan di depan sudah sepi. Perumahan warga sudah berlalu, kami memasuki daerah perkebunan sawit.

Dug, hati saya sedikit berdegup saat disalip sebuah sepeda motor, mereka duduk berdua tanpa helm. Dengan tangan ke belakang, kupluk digenggam penumpang yang dibonceng. Tidak lama sebuah sepeda motor yang ditepi jalan, juga tanpa helm, ikut menemani. Mudik bermotor kecepatan minimal 80 km. Di depan kami hanya ada sebuah mobil Daihatsu Grand Max yang juga melaju kencang.

Motor yang sempat kami salip dari arah pom bensin, dengan kupluk di tangannya, tiba-tiba memepet motor kami. Kami melaju semakin kencang. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada pilihan lain selain melarikan diri. Melaju zig zag di belakang Grand Max. Dikepung dua motor di samping kanan dan satu di belakang. Kami tidak menyerah. Motor terdepan memepet sambil mengambil sesuatu dari balik perutnya. Begal-begal tak beradab ini berteriak-teriak sambil mengacungkan pistolnya. Masya Allah, saya hanya sanggup bertakbir, beristighfar, barangkali inilah masa akhir hidup saya. Situasi genting yang benar-benar meyakinkan saya tidak ada tempat memohon perlidungan kecuali hanya kepada Allah.

Motor terus digas habis, pengejaran para begal kurang adab berakhir saat rambu pos polisi menunjukkan tinggal 200 meter. Tiba di pos polisi RM. Talago Indah, saya lemas dengan helm masih di kepala.

Selesai sudah perjalanan malam ini. Kami memutuskan bermalam di sana sambil menunggu pagi.Deru mobil yang melaju kencang dan debaran hati yang belum juga mereda menyulitan saya memejamkan mata. Malam semakin larut, udara yang dingin membangunkan kami seiring ‘adzan subuh yang berkumandang.

Pukul 06.00 WIB kami melanjutkan peejalanan kembali. Terima kasih yang tidak terhingga kepada seluruh petugas kepolisian yang telah membantu mengamankan dan melancarkan perjalanan kami berangkat menuju Payakumbuh dan kembali ke Bogor, rumah tercinta.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Manusia adalah makhluk lemah yang tidak ada kekuatan selain dari Allah, sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s