KAMI

Hari ini genap sepuluh tahun kebersamaan kami menggenapkan separuh dien dengan membentuk sebuah keluarga. Beberapa hari kemudian setelah menempuh perjalanan selama hampir 36 jam, bis yang membawa kami dari Rawamangun tiba di Payakumbuh.

Sebuah perjalanan yang seru dan menegangkan. Inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Sumatera. Bagaimana tegangnya saya saat bis naik ke kapal feri dan menyelinap di antara parkiran bis dan truk yang super padat. Hebat!

Kemudian di sekitar Lahat-Lubuk Linggau, tiba-tiba saja, PRAAAANG! Kaca bis kami dilempari batu dari luar, malam gelap gulita. Bis terus melaju dengan kencang. Sementara suami saya tetap tertidur pulas. Saya salah sebelumnya berkata padanya, tidak akan tidur karena ingin melihat sesuatu yang menegangkan. Makanya, berhati-hatilah kita jika bicara sobat..

Melewati indahnya Danau Singkarak, kemudian kami beristirahat di RM Siang Malam. Tahukah anda sobat, setiap kali bis kami barpapasan dengan bis lainnya, Pak sopir selalu say hay, silaturahmi yang baik antar sesama pengendara. Dan jika melewati kendaraan, akan dihiasi siulan panjang Pak kondektur.

Setelah sampai, keesokan harinya diadakan syukuran, mengundang para tetangga. Saya tidak mengerti bahasa Padang, namun mengerti arah pembicaraan yang hadir saat berbincang-bincang. Suasana yang hangat. Ah, saya jadi ingat Alm. Nenek Ramlan saat berkata yang membuat saya tersipu, “Lia itu indak rancak, maniah.”

Kami gemar berjalan kaki. Dari Lima Puluh Koto, kami menuju Lembah Harau sambil bergenggaman tangan, ehm. Lelah menempuh perjalanan, kami beristirahat di sebuah kedai menikmati Soto Padang. Rupanya logat Sunda saya terlalu kental, pemilik warung menebak dengan tepat daerah asal saya.

Di persimpangan, kaki sudah lemas juga. Kami naik cator menuju Harau yang indah sangat. Latar yang cantik tidak disia-siakan untuk bernarsis ria. Sayang sekali waktu itu saya belum mengenal bahwa di sini ada komunitas sepeda nanjak. Sudah kebayang serunya. .. Pulang dari Harau, kami berjalan kaki kembali menuju rumah. Lelah kalau dihias cinta tidak terasa. Hehehe…

Giliran kami mengunjungi Ngalau. Sebuah gua yang terletak beberapa km dari Payakumbuh. Harus berjalan kaki sebelum tiba di sana. Sobat tidak perlu khawatir, meskipun gelap, banyak Uda yang menjadi guide dan menyewakan lampu senter. Stalaktit dan stalagmit tersaji dengan indahnya. Di salah satu ruangan, ada sebuah batu besar yang berbentuk seorang ibu yang dinamakan Bundo Manangih. Perihal sejarah peristiwanya saya sudah tidak ingat lagi.

Adik ipar saya, waktu itu masih kuliah di Unand. Jadilah saya ke sana naik bis cukup jauh, sekitar 4 jam dari Payakumbuh ke Padang. Melewati Lembah Anai. Sungai-sungai di sana bersih! Takjub saya! Di perjalanan, ada yang menjual paragede, seperti bakwan jagung. Dan panas sodaraku, fresh from the wajan. Maknyusss…

Setelah puas mengelilingi Unand, lanjut ke mall. Kami naik semacam metromini yang full colour dan full music yang kuencengg. Saya yang belum biasa, begitu turun kliung-kliung dah. Di sini agak panas, ngadem di dalam sambil jalan, window shopping. Hehehe…

Pulang lagi ke Payakumbuh. Ke pasar. Melihat keramaian di sana. Saya kagum melihat para Ibu menumbuk cabai dengan ulekan yang besarrr plus batu bulatnya. Jempoll. Ada juga penjual belut kering yang dikemas dengan tusuk sate.

Hal yang sangat kentara ketika memasuki Sumatera Barat adalah deretan Bagonjong yang menghiasi setiap rumah. Saya kangen berat suasananya.

Cuti suami saya sudah habis, sudah waktunya kembali ke Jakarta. Pertemuan pertama dan terakhir dengan Nenek, saat saya pamit karena beliau keburu meninggal sebelum cucunya lahir.

Kami berharap cerita perjalanan kami tidak hanya sampai di sini. Bahtera tempat kami menabung amal untuk kebahagiaan abadi. Mengendalikan setiap riak dan gelombang agar tetap bertahan, biarlah layar tetap terkembang hingga maut yang memisahkan. Berlayar adalah seni mengatur nada agar menjadi irama, sebuah simfoni yang tetap mengalun. Dengan lembut dan penuh cinta…

34 thoughts on “KAMI

  1. wah perjalanan jauh yang mengasyikan sekaligus menegangkan…
    teh Li itu yang melempar kaca mobil siapa atau kejadian pasca di lempar bagaimana ?

    kalau baca dari post teteh ini, mengenai sungai sungai mungkin sangat jauh berbeda dengan sungai sungai disini yang sudah terkontaminasi dengan limbah limbah….

    • Saya tidak tahu Kang. Keadaan sangat gelap. Kabarnya kami waktu itu tengah memasuki daerah rawan. Di rumah makan, sambil istirahat, kaca bis diganti sementara dengan plastik.

      Sungai di sana airnya jernih, penduduk juga tidak padat. Udara sejuk dan bersih.

      Di kota sungai-sungai dipenuhi sampah dan dicemari limbah. Kesadaran lingkungannya belum terbentuk Kang.

    • kalau setahu saya yang melempari batu itu memang penduduk setempat.hal spt itu sudah lama terjadi, dan bus tidak boleh berhenti. sebab kalau berhenti, maka nanti bus tsb akan dijarah oleh penduduk. ada sebuah cerpen di kompas yg terinspirasi kejadian tsb lho, tapi saya lupa yang mana.πŸ™‚

    • Iya, Puch. Perjalanan selama itu memang melelahkan. Karena kami berdua tukang jalan, jadinya asik-asik saja.
      Bahwa ada slogan, bukan tentang tujuan, tapi perjalanan itu sendiri. Bagi kami, keduanya seru dan menyenangkan.πŸ™‚

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s