Dua Cinta di Awal September

Tidak ada yang kebetulan dalam setiap kejadian. Semua peristiwa, setiap lintasan pikiran, lontaran perkataan, arah setiap langkah, melainkan sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.

Abah, ayah saya, beberapa puluh tahun yang lalu, lahir di awal September. Demikian pula almarhumah Jiddah, ibu mertua saya, lahir di tanggal yang sama, hanya berbeda tahun saja.

Di KTP, kini pekerjaan ayah saya ditulis sesuai keseharian dan keinginan beliau, petani. Ya, kecintaannya dengan dunia menanam telah pula menularkannya pada saya.

Ayah saya yang gagah. Teringat dulu lambaian tangannya saat mulai menjauh, dengan seragam dinasnya, menyusuri pematang sawah sebelum akhirnya sampai di jalan besar hingga menuju ke kantor.

Lagu Titip Rindu buat Ayah, yang ditulis dengan apik oleh Ebiet G. Ade, selalu mengingatkan saya pada beliau. Hari ulang tahun, yang seringkali tidak Abah ingat dan kami pun termasuk yang tidak menganggap penting dengan perayaannya selain untaian do’a dan pengingat berapa tahun atau berapa hari lagi jatah hidup yang tersisa.

Bisa dibilang Abah jarang sakit. Dunia menanam yang akrab dengan terik, angin dan hujan membuat daya tahan tubuhnya kuat, jarang ambruk ditelan cuaca. Kamilah yang justru seringkali tumbang dan meminta kepandaian Abah merefleksi agar pulih kembali.

JiddahSaya pernah menulis tentang Jiddah, ibu mertua saya, di hari kepulangan beliau untuk selamanya. Ibu yang saya cintai dan juga sangat mencintai saya. Hubungan kami sangat baik. Ibu yang aktif, setiap harinya diwarnai kesibukan berorganisasi dan lainnya.

Aktivitas beliau terhenti begitu sakit dan langsung parah hingga meninggal dunia. Sama seperti Abah, ibu jarang sekali sakit. Harap dicatat, kesamaan hari dan bulan lahir tidak ada sangkut pautnya dengan kesehatan dan kepribadian. Saya tidak percaya zodiak, hari baik, hari buruk, karena kita harus yakin dengan takdir sesuai yang saya tuliskan di paragraf pertama.

Kembali ke Abah dan Jiddah. Saya tarik benang lurus dari keduanya yang energik dan jauh dari stress. Ketika kita menjalani kehidupan yang beragam dengan segala pernak pernik kerumitannya. Hadapi dengan penuh ketenangan dan kepala dingin. Perasaan boleh dan dimaklumi jika diwarnai dengan kepiluan. Hanya cukup sampai di situ saja. Keadaan tidak menjadikan kita rapuh berlarut. Kita harus menangguhkan diri. Kita yakin kita mampu. Setiap ujian disesuaikan dengan kemampuan kita mengatasinya. Kita kuat qo sahabatku…

Ketika kita, badan dan pikiran kita aktif, memandang setiap hal dengan positif, insya Allah kita akan lebih sehat lahir batin. Mari kita upayakan! Salam semangat!

17 thoughts on “Dua Cinta di Awal September

      • ah, terserah ah…mau ibu-ibu atau bapak bapak ***padahal malunya minta ampun. Iy y y silahkan dipelajari saya, mulai dari ujung keujung. hehe. thanks thanks

        • Gpp, tenang saja. Bukan sekali dua kali saya dipanggil Bapak. Inilah resiko ketidak-jelasan sebuah nama. Hehe..

          Saya tidak dekat dengan dunia IT. Makanya blog ini , selain saya tidak suka ramai, sepi dari atribut. Jadi jika menambah widget, harus saya utak atik dulu.

          Sama-sama. Thank’s jugaa…🙂

    • Sepakat Mbak El, semua hari itu baik, tergantung cara pandang kita menjalani dan menyikapinya.

      Terima kasih. Maaf lahir batin juga Mbak, saya suka kepeleset kalau berkata..🙂

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s