TOK TOK TOK!

Di samping rumah kecil, terdapat rumah tempat persinggahan yang luas. Rumah yang ada, diperuntukkan bagi pengurus kebun, kolam ikan dan peternakan lele. Pemilik tanah ini, seorang pensiunan yang memiliki posisi penting selama beliau aktif di pemerintahan. Sehingga sering kali di sini, diadakan berbagai acara untuk pertemuan keluarga atau acara santai bagi koleganya. Dapat dipastikan deretan mobil berjejer dari pintu gerbang hingga ke ujung jalan tanah ini.

Sebuah panggung kecil dibuat untuk menyemarakkan acara yang biasa dimulai dengan pengajian, sambutan dan tidak ketinggalan hiburan sederhana yang jauh dari lagu hingar bingar apalagi tarian yang tidak pantas.

Seperti hari Minggu yang lalu, sebuah acara digelar. Kali ini, acaranya santai, berupa mancing bareng untuk kolega. Yang hadir lebih didominasi kendaraan roda dua dan beberapa buah kendaraan roda empat. Tanpa panggung mini. Acara berlangsung dari pagi. Berhubung banyak motor yang lalu lalang, pintu pagar ditutup, khawatir anak-anak saya tiba-tiba nyelonong keluar. Sementara pintu samping saya biarkan terbuka. Saya sibuk memasak di belakang. Setelah selesai, saya ke depan, ternyataaa…..

Ada sebuah mobil parkir dengan damainya persis di depan garasi rumah! Tempat saya menyimpan beberapa buah sepeda dan sebuah motor jadul. Jarak antara pagar dengan mobil tersebut, hanya terpaut sekitar 40cm. Sempiiit. Ya, ampun! Kecuali jalan kaki, kami terkurung di dalam. Anak-anak saya sih asik-asik aja, bahkan bergembira ria bisa nyempil di antaranya.

Yang saya herankan itu, sebenarnya jika pemilik mobil tersebut mau, lahan untuk parkir itu luaaaassss. Bisa maju atau mundur sedikit mendekati saung atau di tepi jalan. Toh, tinggal ngegas sedikit. Lha, ini? Saya kira, di sinilah pentingnya sebuah ‘bahasa’. Kami memang rakyat kecil, tetapi apakah memang sebebas itu memarkir kendaraan di mana saya mau? Sementara sang pemilik yang tidak saya ketahui, tengah asik dengan dunianya. Silakan parkir, tanpa harus mengganggu keluar masuk penghuni rumah. Apakah memang sayanya yang terlalu berlebihan, karena menyadari bahwa jalan di depan rumah, bukan milik pribadi?

Bagaimana menurut pendapat sahabat?

48 thoughts on “TOK TOK TOK!

  1. sama kasusnya dengan garasi kos kami mbak, sering banget persis di depannya dipakai buat parkir mobil kos sebelah sehingga motor kami tidak bisa keluar

    suatu ketika kami iseng menempelkan kertas bertuliskan: “dilarang parkir di depan garasi orang” eh, dibales pakai marah-marah dan menyegel pintu garasi kos kami dengan kayu gelondongan

    hehe…lucu dan menggelikan

  2. kalau kejadiannya di sini mbak, pemilik rumah tinggal nelpon pekerja angkut mobil dan mobil itu diangkut tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ke satu tempat, kalau pemiliknya mau mobilnya lagi ya hrs ke sana dan bayar ratusan euro sebagai ganti biaya angkutnya , lumayan mahal tebusannya, krn itulah org di sini tidak berani parkir seenaknya.

    Menurutku mbak Lia punya hak penuh untuk menegur pemilik mobil itu krn parkir tepat di depan garasi walau jalan umum

    • Seandainya saja, semua serba teratur seperti di sana. Hak-hak orang lain dijaga. Pelanggaran berbuah denda. Kesadaran untuk menghargai kepentingan orang lain, meskipun secara status sosial jauh berbeda, harus tetap diperlakukan dengan baik.

      Iya, Mbak El, Mulanya saya hendak menegur pemilik mobil yang tidak saya ketahui itu, tapi urung saya lakukan, pekewuh saya Mbak…

      • di sini semua diperlakukan sama mbak, tanpa pandang bulu, pernah ada tuh pejabat tinggi mengundurkan diri karena telah tanpa sengaja melecehkan seorang pengangguran . Rakyat biasa juga boleh menuntut pejabat tinggi kalau mereka salah, jadi yg berlaku di sini memang hukum, siapa salah harus nanggung akibatnya, dan ada satu sikap yang saya sukai dari masyarakt sini mbak, mereka punya rasa malu yang sangat tinggi, jadi pikir pikir dulu kalau mau berbuat seenaknya, krn resiko lain selain kena hukuman adalah mereka akan merasa sangat malu

        beruntung pemilik mobil itu ya mbak, andai aku, sudah kusemprot habis habisan *kayak tukang semprot aja* ^_^

        • Nah, rasa malu ini sepertinya belum terbina. Karena banyak kasus di sini, justru para petinggi yang seyogyanya sebagai pengayom, malah berbuat sekehendak hati. Mungkin merasa, saya memiliki lebih atas semuanya, punya power, jadinya ya seperti di atas. Padahal karen nila setitik, rusak susu sebelanga. Saya menaruh harapan besar, para pemimpin di sini, malu jika tidak amanah, sehingga rakyat pun damai dipimpin oleh mereka.

          Wah, ternyata Mbak El yang lembut hati, kalau perkara hak, berani membela kebenaran. Saya dan juga rakyat di sini, harus berani juga nih.πŸ™‚

          • iya mbak, aku orgnya suka meledak kalau hak ku diganggu atau dirampas org lain, selama berada di pihak benar aku berani semprot orang yg menganggu hak ku itu , soalnya kadang kalau dibiarkan orang spt yg mbak uraiakan di atas tambah menjadi jadi kelakuannya

            • Pekewuh kalau dalam masalah hak, keadilan harus dihilangkan. Insya Allah ke depannya, siapapun orangnya jika ada kesewenangan harus ditegur. Terima kasih telah menginspirasi saya.πŸ™‚

            • hehe..aku juga sama kayak mbak Ely! suka meledak kalo hak saya diganggu gugat! Selama itu benar, jangan ragu buat bertindak/menegur! Tapi tentunya pertama kudu bicara dengan santun. Kalo udah sopan masih keras kepala, baru main semprot! πŸ˜€

              • Iya, Pi. Asli tadinya saya mau nyemprot juga. Ga jadi, ada kasian khawatir dianya malu ditegur di depan banyak orang, pas saya tanyain, katanya pemiliknya lagi makan ramai-ramai begitu. nyesel juga ga bisa ngasi pelajaran buat ybs.

  3. Hadeeeehhh..Kalau aku juga akan ngedumel diperlakukan seperti itu Mbak Lia…Sebelah rumahku ada yg jual mie..Pelanggan mereka ada yang gak tahu diri kayak tetangga Mbak Lia itu..Sering capek karena harus memberi tahu si pedagang kalau mau keluar..Lama2 terlintas pikiran jahat, pengen ngempesin ban itu orang..Tapi belum terlaksana sih, niat sudah ada hehehe..

    • Tetangga saya meskipun mantan pejabat, baik dan sopan Mbak Vi. Yang bikin rese itu justru para tamunya, main parkir seenaknya, mungkin merasa punya teman orang penting, jadi mengabaikan hak orang lain. Sebal sekali saya.

      Sempat juga terlintas nulis, mobil ini kena tilang! Hahaha,,, Coba kalau di luar negeri Mbak, bisa ditilang betulan mungkin ya…

  4. mungkin sebaiknya hrs ada ketegasan dari mb juga disini…..lewat bhs yg santun soalnya barangkali juga si pemilik mobil tidak tahu atau tidk mengerti kalau parkiran mobilnya sangt mengganggu keluar masuk org yang ada didalam rumah mb…..

    • Iya, Bens. Biasanya kalau pas saya ada di depan, meskipun mobilnya mentereng, berani saya tegur, agar menggeser tempat parkirnya. Mungkin karena pintu pagar ditutup, ia merasa gpp parkir di depan garasi.

      Betul banget, saya harus positif thinking saja biar adem, barangkali yang bersangkutan tidak menyadari ekses yang ditimbulkan akibat perbuatannya. Thanks Bens.πŸ™‚

  5. waduh… aya aya wae abong jelema… cing atuh sing neuleu parkirteh euy… ulah sangenahna bae..

    persis teh Li di depan pintu pagar saya juga sering banget ngedapetin kendaraan roda dua atau roda tukang jualan yg “reg” we parkir hareupeun lawang pisan, pikasebelen.. padahal bade mundur lega atuh bade maju ge lega…

  6. Yang Sepi ini sedang ditemai oleh secangkir Kopi dan Sebatang Rokok.. Namun Ditambah Baca Artikel.. Mancaaapppp..πŸ˜›

  7. gueeeeeeee bangeeeeeddddddddddd..ikut nimbrung y mbak aq jg hampir tiap hari dbkin emosi ma tetanggaq yg suka parkir mbl seenaknya..bkin aq susah lwat,harus minggirin jemuran org-lah..minggirin kayu-lah,sumpah dongkol bgdd..baru kmrn q negor dia parkir didpn rmhq sampe aq gak bs lwat eh..td jg kurang minggir bkin mblq nabrak kayu krn saking sempitnya tu jalan…arrrggghhh, fiuh..sabar..sabar..

    • Hehehe… Tenang-tenang.πŸ˜€
      Menghadapi tetangga yang kurang tahu etika, menyebalkan pastinya. Apalagi jika berulang dan sering banget kejadiannya. Menegurnya langkah yang tepat, biar beliaunya sadar, sikapnya sudah sangat mengganggu mobilitas kita. Kalo ga ngeh juga, wahh itu mah kebangetan… Wajar banget kita dongkol…

  8. Samma mba..tetangga baruq jg parkir mobil ddpan garasi paaaaasss..pdhl bs lho mundurin dikit biar aq bs kluarin motor..aq bingung gmn negurnya..krn diperumahan aq paling kecil..yg lainnya udh pd pnya anak..aq sm suami msh 20thunan..jengkelll kl dy nutup pintu mobilnya smpai bunyi braakk..gt mba..hmmm

    • Kalau tetangga tetap saya kira gpp jika menegurnya langsung dg halus, apalagi kalau ada keperluan penting. Kejadian kaya di atas memang bikin bt, bertetangga, tapi kurang paham dg hak orang lain.

      Makasi banyak lho Mbak Ayya sudah berkunjung.πŸ™‚

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s