Bukan Satria Baja Hitam

Terletak di ujung jalan, sampailah saya di areal sawah yang tidak begitu luas, hanya beberapa petak saja. Karena dekat, setiap tahapan mulai dari penyemaian benih, membajak sawah, hingga memanen padi dapat saya saksikan dengan leluasa.

Awal kehidupan

Masih menggunakan kerbau

Hingga ke sudut

Lahan telah siap

Tumbuhlah kalian…

Memanen padi

Menyaksikan kerbau di atas, mengusik masa kecil saya. Betapa dulu saya menginginkan menungganginya, ikut blusukan di lumpur sawah, beristirahat di bawah pohon kelapa. Persis pengggambaran anak penggembala di televisi dan koran. Dan belum terwujud hingga sekarang. Juga saya mesti berpikir berkali-kali, bisa-bisa saya didepak  sang kerbau karena berpikir, “Eh, elu saingan gue!”:mrgreen:

Menginginkan perubahan, menggapai tujuan, memerlukan proses yang harus dilalui dengan kesungguhan. Tidak serta merta terwujud dengan demikian mudahnya. Dunia film memang membuat segalanya tampak mudah. Asik mungkin ya jika terjadi nyata.   Berubah! Jadilah Kitaro Minami menjadi seorang Ksatri Baja Hitam. Atau Doraemon dangan kantong ajaibnya bisa pergi ke mana saja. Kepraktisan dunia khayal tingkat tinggi.

Mereka yang terlalu berhati-hati sebelum mengambil satu langkah, akan menghabiskan seluruh hidupnya dalam satu langkah kaki. (Peribahasa China)

Jadi blogger tapi gak mau ikutan kuis, bagaikan naik taksi tapi gak mau pakai argo. Belum  jadi blogger gaul, kalo belum ikutan’ Kuis Slogan Gaul Kartini Modern’ di blog Bibi Titi Teliti.

21 thoughts on “Bukan Satria Baja Hitam

    • Alhamdulillah masih dekat dengan lingkungan yang masih hijau.🙂

      Ini langkah perdana saya, belum pernah ikutan kontes seru-seruan sebelumnya.
      Makasi banyak Bens.🙂

  1. wah asyik membajak sawah pake kerbau…

    nikmat teh,,,habis kerja panas panasan di bawah terik mentari terus istirahat sejenak di pematang sambil makan, nganggo angeun kentang laukna cekap lauk sepat asin lalabnya lenca sambelna sambel goang di cikuran…mantaplah…

    leres teh di alam nyata gak ada yang ujug ujug,,, tetap saja ada proses dan tahapan…

    • Waktos alit kabita ningal nu ngangon munding, ngemplad. Heheh… Komo deui tas ngawuluku, niis sabari tuang. Beu…

      Ngajalankeun prosesna anu kedah seueur sabar. Ujug-ujug sim salabim kedah ngimpen heula. Heheh..😀

      • jiga nu enakeun nya, Teh ?.. bari ngahaleuang sagala tah nu nuju ngawulukuna.. matak kelar pami emut hehe

        leres pisa teh… anu karandapan seubeuh sedih seubeuh ceurik ceuk anu bohong teamah enggoning ngudag ka hayang…, maklum modal dengkul hehe

    • Di dekat saya dan mungkin juga di kampung Mbak Ely di Indonesia, membajak sawah masih menggunakan kerbau.

      Berbeda sekali dengan di Jerman ya, areal pertanian dan perkebunan sudah disentuh dengan teknologi modern. Adakah sawah di sana Mbak El?

      Terimakasih supportnya. Aih saya jadi malu. Ini baru pertama kali ikut kontes2an. Ini juga karena hanya beberapa kalimat saja. Hihihi…
      Belum pd ikut kontes menulis artikel panjang lebar.🙂

      • wah mbak, saya tingal di desa yang dikelilingi hektaran sawah, tiap hari itu bersepedanya ya muter muter sawah, orang baru keluar dr perumahan sudah disambut sawah .. luas sekali, cuma jarang lihat pak tani, kalaupun lihat ya cuma pas nanam biji dgn mesin raksasanya itu atau pas kalau bajak sawah dan panen, itupun biasanya cuma seorang doang di sawah yg begitu luasnya ynag banyak itu justru ratusan burung, dari merpati, camar, gagak, Starr, bangau yang selalu mengelilingi traktor di mana pak tani lagi bajak sawah, lumayan dapat gratis cacing dsb, ini yg aku sukai mbak, kadang aku iri lho pengen sekali kali naik traktor gede itu dan bajak sawah soalny adikelilingi ratusan aneka burung

        • Wow, pasti nyaman sejauh mata memandang hijau semua. ^^
          Saya kira karena di sana, makanan pokoknya roti dan kentang, jarang ditemukan sawah…
          Tepat dugaan saya, di sana serba memakai teknologi. Jadi meminimalisir tenaga manusia, apalagi hewan…

          Memang sangat jauh tingkat kemakmuran petani di sini dan di Jerman. Saya berharap, kesejahteraan para petani di Indonesia meningkat, sebanding dengan peluh yang telah mereka keluarkan.

  2. Enak ya Mbak tinggal di lingkungan seperti ini, adem, pemandangan terbuka dan selalu hijau. Aku juga dulu pengen naik kerbau, waktu kecil pernah ngerasain naik kerbau tetangga. Tapi cuman sesekalinya sebab saat meluncur turun aku terjatuh. Yang punya gak mau ribet, besok2 aku gak dikasih naik lagi hahaha..

    • Alhamdulillah masih ada area hijau, jadi lebih adem.🙂

      Pengalaman pertamanya pasti seru banget. Yang punya kerbau tidak mengizinkan Mbak Vi naik lagi, disinyalir khawatir kena marah Bapaknya Mbak Evi. Hehehe…

  3. Dulu disekitar tempat tinggal sini juga sama halnya dengan gambaran diatas, masih terdapat bbrp petak sawah, tapi skrg sudah dikuasai besi berbeton😀

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s