Keluarga Si Rambo

Tidak sampai hati membiarkan Si Rambo merana sendiri. Setelah sekian lama ia banyak bercengkerama dengan kalkun milik tetangga, akhirnya Si Rambo memiliki pendamping hidup.πŸ˜€

Si Rembi, kami menamainya pada ayam betina putih nan cantik. Rambo langsung jatuh hati, fall in love at the first sight. Hehe…. Meski pada mulanya lari tunggang langgang dan terbang ke atap saung, Si Rembi luluh juga pada Si Rambo. Yesss….

Tidak berapa lama Si Rembi bertelur hingga beberapa butir. Luar biasa memerhatikan keluarga baru ini. Sementara Si Rembi gelisah, Si Rambo sibuk mencarikan tempat yang kondusif untuk bakal anak-anaknya. Ditungguinya dengan sabar, hingga Si Rambo berteriak seolah mengumumkan mereka akan memiliki junior baru.

Beberapa minggu dierami, mengabaikan rasa lapar yang mendera. The best inkubator menetaskan telur-telur mungil itu. Keluarlah anak-anak Si Rambo dan Si Rembi. Kami ikut menyambut bahagia, mungkin terdengar lebay, tapi ini nyata.πŸ˜€

Larut dalam euforia, gawatttt….! Di sekitar Si Rembi dipenuhi kutu berupa titik yang biasa menyertai munculnya anak ayam. Banyak SIEUR. (Apa namanya dalam bahasamu?) Oh, nooo!

Lalai menaburi tembakau, membuat kutu ayam ini berkembang pesat. Jika menggigit, volume tubuhnya membesar dan dipenuhi darah korbannya. Vampir imut!

Tunggu dulu sobat! Saya berpikir jika serangga saja ogah bin enggan membaui aroma tembakau sebagai insting pertahanan diri. Mengapa manusia justru menyukai dan menghirupnya dalam-dalam hingga memenuhi rongga paru-paru?

41 thoughts on “Keluarga Si Rambo

  1. Si Rambo ganteng nian Mb Lia. Seru ya membuat rambo-rembi berkeluarga.
    Mengenai tembakau pd manusia, krn kita punya otak yg lbh berkembang sedikit dr hewan. Baunya mengalahkan kenikmatan. Jd orang menghisab tembakau lbh menitik beratkan pd kenikmatannya ketimbang baunya, mbak

  2. selamat atas menetasnya telur remby yang akan melanjutkan petualangan rambo senior..
    wah kahade Teh pami sieurmah sok ararateul…hehe..

    inget s putih yang galak ne jadinya setiap melihat orang pasti tuh s putih menyerbunya..

    hehe sebagi perokok saya justru menikmati tembakau yang sudah menjadi rokok dengan mengisapnya dalam dalam…

  3. wuah ini ayam kate kan mbak?

    he he semoga keluarga rambo dan rembi bahafia selalu. btw anak-anaknya namanya siapa nih?

    mengenai tembakau, analogi yang langsung tajam menohok mbak! ha ha..

    • Iya, Fin, ayam kate. Nama buat anak-anaknya belum ada, bingung saya, belum bisa bedain. Masih terlalu imut. Ada masukan?πŸ˜€

      Tepat sasaran bagi yang care, kalo bebal, ga tau deh. Hehe…

  4. duuuuh lutunaaa … jadi inget dulu kelinciku melahirkan.
    btw..iyayah..heran sama orang yg gila ngerokok. menahun2 ngerokok tp ga tobat juga..sampe gigi keliatan kuning, bibir keliatan item..ga kebayang itu gimana warna paru-parunya.

    • Anak kelinci n anak ayam itu memang lucu abis, nggemesin.πŸ™‚

      Hahaha, ciri-ciri di atas memang trade marknya smoker.πŸ˜€
      Kalo sudah nyandu, tanpa niat yang kuat pasti susah brenti. Pernah lihat di acara apaaa gitu, perbandingan paru-paru perokok dan yang bukan memang jauh berbeda, mengerikan sekali. Racun yang terhisap membuat paru-paru berubah penampakannya…

  5. waaahhh, ayam kate?
    jadi inget peliharaan saya waktu kecil dulu..
    :p

    btw manusia jaman sekarang udah pada kacau, makanya bodoh bgt malah ngehirup barang2 “aneh” itu berlebihan…

    • Pernah punya ayam kate juga ya..πŸ˜€

      Bagi sebagian, dampak negatif jadi nomer sekian, yg penting enjoy. Berbeda dg hewan, mereka sensitif dengan racun yg berbahaya. Kalah kita ya…. Memang haduh banget…

  6. Tembakau memang obat anti kutu yang perlu ditebarkan di sarang induk ayam betina saat akan mengerami telur-telurnya. Namun tembakau pula yang membuat orang kecanduan mengisapnya.

    • Saya lupa menaburkannya Mbak, jadi setelah ada yang imut merayap, baru ngeh saya.πŸ˜€

      Kalau sudah nyandu, sulit berhenti tanpa niat yang kuat. Semoga saja semakin banyak yang berhenti merokok….

  7. kalau di kampungku dinamai gurem mbak. biasanya pas ayam mengerami telur ia kebelet eek di petarangannya.

    • Saya juga ga tau El. Hehe…

      Sayang sekali anak-anaknya sudah mati semua. Entahlah, mungkin karena tidak sanggup beradaptasi dg lingkungan barunya. Sudah ajal. Tapi sepertinya Si Rembi sudah memberi tanda akan bertelur lagi.πŸ˜€

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s