U/P : GOWESER

Hampir setiap hari di setiap sore, saya dan anak-anak gowes bareng di sekitar rumah dan sekitarnya. Putra pertama saya, 8 tahun, memakai sepedanya sendiri. Sedangkan putri saya, 4 tahun, dibonceng di belakang.

Tujuan kali ini ke Kampung Paniisan yang berjarak beberapa ratus meter saja dari kediaman saya. Di sana terdapat beragam pohon buah untuk pengenalan kepada anak-anak, deretan saung dan kolam renang. Puas bermain di sana, kami memutuskan untuk kembali ke rumah.

Memasuki jalan menuju rumah, sambil tetap mengayuh sepeda perlahan, sembari menikmati semilir angin,tiba-tiba saja laju sepeda saya terhenti. Alangkah terkejutnya saya mendapati kaki putri saya tersangkut di antara jari-jari roda sepeda!

Panik, khawatir, segera saya menuju rumah. Saya periksa kaki putri saya dengan seksama. Tampak oleh saya, tekanan yang sangat kuat, membuat kulit mata kakinya melesak ke dalam. Bersyukur ke hadiratNya, cedera yang ditimbulkan berupa lebam, lecet dan luka ringan.

Dengan berasumsi kaki putri saya sudah dapat menginjak jalu roda belakang sepeda, ia akan baik-baik saja. Ternyata itu tidak cukup. Dalam keadaan lelah, siapa saja akan lebih mudah mengantuk. Terlebih lagi putri saya! Saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika saja saya mengayuh sepeda dengan cepat. Alhamdulillah saat itu putri saya memakai sepatu!

Berkaca dari hal di atas, untuk mencegah kejadian tersebut menimpa buah hati kita,
1. Gunakan sepatu untuk melindungi kaki dengan sempurna.
2. Memakai helm jika menempuh jarak yang cukup jauh.
3. Ikat badan anak dengan kita dalam keadaan aman untuk mencegahnya terjatuh saat mengantuk.
4. Perhatikan kenyamanannya, jangan terlalu kencang atau terlalu longgar.
5. Jika masih muat, sebaiknya, dudukkan anak di kursi boncenger yang diletakkan di palang rangka sepeda.
6. Kayuh sepeda dengan kecepatan sewajarnya. Ingat, kita membawa anak untuk bermain, bukan untuk balapan.

Silakan ditambah masukannya agar bisa gowes dengan aman, nyaman dan tentu saja menyenangkan.

Salam langit biru.

 

_________________________________________________Β 


Sespand Pada Motor

37 thoughts on “U/P : GOWESER

    • Iya, Bens. Kalau tidak ada kejadian ini, mungkin saya tidak begitu memerhatikan hal-hal yang sepertinya kecil, namun akan berakibat fatal jika diabaikan.
      Makasi banyak nie Om do’anya (panggilan akrab sesama pegowes?)πŸ™‚
      Alhamdulillah putri saya sudah bisa berjalan normal lagi.

  1. tips yang bagus mbak. kaki yang kena ruji sulit sembuh. he he kalo aku sepedanan pake yang tenaga listrik menuju ke sawah sama anak bungsuku cari ikan.

    • Alhamdulillah waktu kejadian, sedang pakai sepatu. Biasanya sendal jepit. Bisa luka parah kalau tidak terlindungi.

      Wah, seru banget gowes buat nangkep ikan.πŸ™‚

      • alhamdulillah mbak kalau begitu. memang ilmu itu didapat dari pengalaman akan lebih melekat ya mbak lia. Hiburan yang murah meriah buat anak saya mbak.
        salam hangat untuk keluar.

        • Betul sekali Mbak Min. Kejadian ini membuat saya lebih berhati-hati…
          Bermain bersama anak, tidak selalu harus mahal, yang penting kebersamaannya, plus sehat pula. Terima kasih banyak.πŸ™‚
          Salam hangat kembali untuk Mbak Min sekeluarga.

  2. bagaimana keadaan buah hatinya Teh, sudah sembuh lukanya ?

    baca post kali ini, ingat saat bonceng anak tapi pake motor di belakang lagi kasusnya sama ngantuk. saya tau anak saya tidur dari orang orang yang nongkrong di pinggir jalan berteriak memberi tau bahwa anak saya tertidur..

    • Alhamdulillah sudah sembuh Kang. Sempat bengkak tiga hari. Dikompres Rivanol biar cepat sembuh.

      Itu dia bonceng anak memang sangat riskan ketiduran. Saya juga suka ‘ngereles’ kalau dibonceng bapaknya anak-anak. Hehe.

      Sekarang sudah banyak diproduksi gendongan untuk mengikat badan anak dengan orangtua, khususnya bagi biker, biar lebih aman, menghindari jatuh dari motor.

      • syukur Teh kalau udah sembuh..

        sejak kejadian itu gak pernah lagi anak di bonceng di belakang suka di depan. walau dia tidurpun kita bisa tau..

        wah ‘ngerelesnya’ itumah bukan karena ngantuk kali teh tapi kebayang saat di kamar be’dua ma bapaknya anak2 heuheu..

        tapi kalau di sini saya sering lihat orang orang masih mengunakan alat gendong tradisional [samping kebat] hehe

        • Saya juga masih trauma Kang. Lebih repot, tapi lebih tenang kalau dibonceng di depan.

          Halah, kacida piraku lagi dibonceng ngemutan anu araneh, anu aya mah, panas, macet.πŸ˜€

          Manawi teh mung saya wungkul, pami mengikat pun anak nganggo samping kebat. Geuningan seueur.

  3. Alhamdulilah ya mbak, putrinya sekarang dah sembuh kembali
    kalau di sini biasanya anak anak diboncengkan di tempat duduk khusus, atau ada juga yg ditaruh di gandengan, berupa becak kecil, jadi pasti aman buat anak anak ikut berkeliling naik sepeda dgn orang tuanyaπŸ™‚

    • Alhamdulillah Mbak El, lukanya tidak parah. Jadi proses penyembuhannya cepat.

      Kalau di sini, yang lazim ditemui, boncengan untuk anak seperti sepeda merah di atas, terbuat dari rotan. Kalau ala Jerman, wah ga kebayang deh jika sudah kena sentuhan teknologi modern. Di sana pastinya aspek untuk keselamatan sangat diperhatikan ya Mbak.

      Mungkinkah seperti sespand pada motor besar?

      • sespand ? aku belum tahu mbak, ada dua jenis, yg satu tempat duduk dengan ikat pinggang pengaman yg ditaruh di boncengan, yang satunya lagi persis seperti becak mini ditarik gitu di belakang sepeda. Jaid di sini kalau mau ngajak anak naik sepeda harus pakai salah satu nya mbakπŸ™‚

        • Yang terbayang oleh saya, seperti tali pengaman pada mobil ya Mbak El?

          Sespand, tempat duduk untuk boncenger yang terpisah dengan body induk motor, biasanya terletak di samping, seperti gambar di bawah, milik tetangga saya.πŸ˜€

          Sespand

    • Mangga, wilujeng gumujeng…πŸ™‚

      Ku saya diemutan, kenapa seuri? Disinyalir karena terdapat kontradiksi antara postingan dengan gambar akhirnya. Ini karena kegaptekan saya belum bisa menampilkan gambar sespand di kolom komentar.πŸ˜€

  4. ini sepeda masih agak mendingan
    kemarin saya menangani pasien yang kena jeruji sepeda motor
    dan parahnya, ibunya gak nyadar sebelum tuh anak menjerit-jerit di boncengan

    membawa anak kecil dengan kendaraan roda dua memang harus senantiasa berhati-hati
    πŸ˜€

    • Masya Allah, makanya saya alhamdulillah banget Puch, anak saya cuma lecet-lecet.

      Betul banget, karena hal ini saya jadi lebih berhati-hati dan juga penting untuk kita semua memerhatikan keadaan dan keselamatan boncenger.

      Makasi Puch kunjungannya.πŸ™‚

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s