Sepi Di Ujung Senja

Senja di Sungai Meser By Duniaely

Sudah terlalu biasa menyaksikan perang dingin di rumah ini. Ayahku jarang pulang. Demikian juga Ibuku. Semua berawal ketika sebuah kecelakaan menimpa ayahku, tangan dan kaki beliau patah, sehingga tidak memungkinkannya untuk bekerja. Ketika keadaan sudah membaik, ternyata ayah lebih betah berdiam diri di rumah saja. Sedangkan ibuku harus banting tulang agar asap dapur dapat mengepul dan kami anak-anaknya, masih tetap bisa bersekolah.

Ada tapi tiada. Begitulah keseharian yang diperlihatkan keduanya dan kami adalah penonton setia. Kebekuan yang entah kapan dapat mencair. Hmmm, mungkin hanya ketika tidur saja. Lalu memadat kembali setelahnya. Tanpa sapa dan kata. Sepi.

Ibu akan pulang. Selalu itu jawabmu ketika meninggalkan rumah ini demi mengatasi kebosanan yang terjadi. Ke rumah teman dan saudara. Lalu ayah? Setali tiga uang. Setelah seminggu pergi ke negeri antah berantah barulah nampak sosoknya.

Aku sebal dengan keadaan ini. Saudara-saudaraku santai saja. Seolah tidak peduli. Sering aku pulang berseragam abu tanpa menemukan orangtua yang dapat kukecup lembut tangannya.

Ini memberiku ide. Aha! Aku dapat melakukan hal yang sama dong! Toh mereka pula yang mengajarkanku. Baju cukuplah yang melekat di badanku. Beberapa lembar uang kertas untuk ongkos perjalananku. And tas ransel hitam kebangsaanku. Sudah, itu saja.

Mengenakan celana corduroy cokelat, sweater merah dan jilbab putih. Kurasa meskipun hatiku kusut, aku masih terlihat manis kann… Hiyy, narsis. Galauku dengan muka yang dilipat semakin memperkuat julukan Si Jutek yang melekat padaku. Aku memang pelit ngomong, apalagi kepada orang yang tak kukenal. Masa bodo! Aku kan sudah bilang lagi kesal! Aku siap meninggalkan rumah ini sebelum kepulangan ibu yang sudah berjanji untuk pulang kemaren. Dadah all… !

Bingung juga hendak ke mana aku melangkah. Ok deh! Ke kantor tempat aku pernah magang aja. Di sana aku bisa haha hihi dengan bebas. Bis DAMRI mengantarku ke tujuan. Gila! Perutku keroncongan minta diisi. Ke kantin di samping kantor aja. Aku duduk manis di bangku kosong lalu memesan sepiring baso tahu siomay. Pesanan datang segera kusantap, kenyang deh. Dari sini aku masih dapat melihat dan mengenali wajah-wajah penghuni kantor ini. And know what? Aku dapat goceng, gara-gara memanggil dengan tepat nama salah satu dari mereka. Haha. Lumayan. Horeee…..

Lanjut lagi man! Aku memutuskan pergi ke rumah tanteku saja. Aku tahu sekarang jadwalnya pamanku bergilir ke rumah istri ke duanya. Pastinya ini akan jadi rumah yang luput dari pencarian keluargaku. Eh, apa? Dicari? Mungkinkah?

Perlu naik delman dari tepi jalan besar menuju rumah beliau. Goncangan derap kuda dan medan yang naik turun membuatku sedikit ngeri. Terdengar para pemuda bersiul melambaikan tangannya ke arahku. Norak amat sih. Yahh, akhirnya kubalas juga lambaian tangan mereka jika memenuhi kriteriaku. Haha… Ehm, iya lagi seneng ngeceng. Susaah banget menundukkan pandangan pada makhluk imut. Ayo Sisca, kamu bisa. Ngeliatnya jangan keterusan, bintitan lho! Gadhul bashar, ingatkan nasehat ustadzah Neni di masjid?

Menjelang maghrib sampailah aku di rumah tante. Kedatanganku disambut ramah. Tanteku ini teramat baik. Mana ada sie istri yang ikhlas blasss dimadu? Mungkin hanya terhitung jari saja. Dan beliau termasuk di antaranya.

Setelah makan malam, kantuk mulai datang. Habis makan tidur? Dasar pemalas! Please kawan, jangan menghakimiku! Apa kalian tidak merasakan remuknya hati ini? Masih untung pelarianku tidak berakhir dalam pelukan pria gatal hidung belang maniak apalagi sebutan yang pas bagi perenggut kesucian anak gadis sebayaku!

Malam mulai beranjak larut. Kucoba untuk tidur. Tolong! Mataku tak jua mau terpejam. Jatuh pula tetesan bening dari ujung mataku yang sekuat mungkin kutahan di depan tanteku. Aku tertidur dengan sedu sedan yang menyergap.

Tidak bisa berlama-lama pula aku tinggal di sini. Hari masih pagi ketika aku berpamitan. Meski sedikit enggan, aku hendak mampir ke rumah Ira, sahabatku. Angkot membawaku ke sana. Menuju rumahnya, jalan kaki menjadi pilihan utamaku. Naik ojeg ogah ah, takut ngacir, lagian dompetku sudah kerontang.

“Assalaamu’alaikum.” Baru setelah ucapan salam yang ke tiga, pintu rumah dibuka.
“Neng Sisca, ayo silakan masuk nak!” Ibunya menyambutku ramah.
“Terima kasih.”

Ira ga ada. Aku lupa kalau Hari Minggu jadwalnya padat, ikut mentoring di kampus dekat sekolah kami. Sering aku diajaknya serta ikut aliran bawah tanah, seusiaku semangat mencari jati diri sedang naik-naik ke puncak gunung. Mau ikut aliran kiri, kanan, item, ijo, mejikuhibiniu deh pokoknya, tinggal pilih.

Aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak mau membuat ibuku cemas. Aku tahu, beliau akan mencariku meski hingga ke ujung dunia.

Ibu tengah duduk di kursi di dekat jendela kamar. Matanya sembab. Melihatku telah kembali, beliau segera memelukku erat.
“Jangan ulangi lagi Nak..” Kami berderai.
“Mengapa Ibu tidak pulang tempo hari ?” (N)

{ Janji adalah sesuatu yang harus kita pegang teguh dengan kesungguhan dalam mengupayakan pemenuhannya.}

56 thoughts on “Sepi Di Ujung Senja

    • Kemaren lusa sudah minta izin gambarnya saya pakai. Suka bgt, kesannya suasana temaram, sunyi, dengan awan kelabu menjelang malam..πŸ™‚

      Niq, saya sudah berkali-kali nulis krisan di Ff blog detik gagal mulu. Padahal sdh nulis dengan luas, panjang kali lebar. Hehe…

      Di sini aja gpp ya, saya suka dengan Sepucuk surat (bukan) dariku. Kalo nulis krisan di sini jelas salah tempat. Ntar dicoba lg deh.

  1. sabar nenk…..

    jadi nama c mpunya blog ini nenk sisca maaf selama ini kang uya panggil teh hiji hawu … pami teu kaabotan kang uya panggil nenk sisca aja….

    k uya sebagai orang tua bisa merasakan apa yang ibu nenk sisca rasakan… apalagi c nenk seorang anak perempuan, anak k uya yang laki saja kalau telat pulang dari jadwal kami sangat merasa cemas…

  2. wow … tersanjung sekali gambarku dipajang di blog ini, terima kasih
    banyak ya mbakπŸ™‚

    siapapun yg masih didampingi orang tua adalah orang orang yg beruntung termasuk Sisca

    • Saya memang suka dengan foto di atas. Suasananya pas dengan tema cerpen ini, tentang kesunyian. Terimakasih juga atas foto indahnya.πŸ™‚

      Memiliki orangtua, bagaimanapun keadaannya, bagi anak, mereka adalah harapan untuk berbagi dan kembali…

    • Maafkan saya jika cerpen di atas mungkin sedikit menyentuh rasa hati. Saya menuangkan apa yang saya tangkap dari keadaan sekitar sambil menyelami apa yang kira-kira dirasakan baik oleh pelakon ataupun orang-orang yang berinteraksi di dalamnya.

      Mungkin setiap kebekuan dan kehampaan bermula dari kurangnya komunikasi dan adakala perlu untuk lebih saling mendengar. Maaf, tidak untuk menggurui ya…. Saya menyampaikan dari yg saya dapat di sekolah anak-anak…

      • iya mbak. . . aku ngerti kok. .. . . . hhehehhehee. . . . udah kucoba untuk berkomunikasi akan tetapi susah untuk disatukan. mungkin kegengsian yang tinggi atau kebodohan saya yang terus muncul… aku brokenhome mbak. . .

  3. so sweet..
    ibu tetaplah seorang ibu yang akan tetap merasa kehilangan saat anaknya nggak ada di sisinya sedetikpun..πŸ™‚
    have a nice day ya mbak..
    semoga do’a tulus untuk keharmonisan keluarga diijabah sama Allah, Aamiin..

    • Karenanya perempuan diberi rahim, tempat awal menumbuhkan rasa cinta kepada putra-putrinya…

      Aamiin. Insya Allah… Jazakillah khairan katsiro. Have a nice day too n happy weekend.πŸ™‚

    • Benar, pamit selalu agar direstui dan dido’akan orangtua.

      Melarikan diri tindakan yang tidak tepat dalam menghadapi masalah. Meskipun barangkali banyak yang memilih langkah ini atas ketidak sukaannya terhadap sebuah keadaan.

  4. Keren nih Mb Lia…Aku pikir, kesalahan semua anak adalah, ikut memperkeruh ketika orang tua dalam masalah. Bukannya membantu bagaimana mereka agar rukun, meringankan pekerjaan rumah, eh malah ikut2an kabur meninggalkan rumah.
    Hehehe..Namanya juga anak2 ya, mikirnya belum tuntas…

    • Hehehe…. Siscanya remaja yang manja Mbak Vi. Orangtuanya puyeng, ikutan kabur. Untungnya masih dalam koridor. Yang banyak terjadi, kabur dengan pacar. Memang banyak faktor. Bagaimanapun menjadikan rumah tempat kembali yang nyaman bagi semua anggota keluarga, perlu kerjasama yang baik (kata pakarnya, karena saya juga masih mengusahakan dan belum bisa) Hehehe….

  5. Salam,
    Entahlah bagi orang lain, tapi bagiku orang adalah segalanya, seburuk apapun mereka dimata orang lain, mereka tetap orang tua yang melahirkan dan membesarku seperti sekarang.
    Tanpa kasih sayang mereka, tidak mungkin kita seperti sekarang.

    • Tentu saja Mas Die, sepakat.πŸ™‚
      Jasa orangtua, bagaimanapun keadaannya, tidak terbalaskan dan tidak ternilai dan kita sebagai anak berkewajiban untuk berbuat baik dan berbakti kepada mereka.

      Terima kasih atas hadirnya. Salam.

  6. memang begitulah, keretakan hubungan suami dan istri tentu akan sangat mempengaruhi mental anak-anaknya, Dipungkiri atau tidak. Semoga hubungan orang tua mbak Sisca kembali normal dan bisa hidup dalam kehidupan keluarga yang hangat. Banyak-banyak berdoa semoga diberikan hasil terbaik.

    Walah ini kan fiksi. Ya tinggal diganti skenarionya he he.

    • Konflik rumah tangga memang berdampak besar terhadap anak.

      Semoga saja akhir dari cerita jika ada yang mirip dg sosok Sisca ini, happy ending ya. Hehe…

    • Waah, tulisan seadanya begini dikangenin, malu saya. ^^

      Makasih Mbak El..πŸ™‚

      Masih tersimpan di memori, belum dikeluarkan. Lama dibiarkan, eh betah di dalam ia. Hehe..

    • Mentoring, tutorial oleh senior. Biasanya dilakukan dalam kelompok kecil.

      Sisca remaja rindu figur. Ia protes, janji yang diberikan padanya tidak dipenuhi. Mencari pelarian di luar, tetapi pada dasarnya kehangatan keluarga yang ia harapkan.

    • Bagaimanapun keadaannya, seorang ibu sangat menyayangi anak-anaknya..

      Setiap pribadi dapat menafsirkan dan menyimpulkan isi cerita dengan berlainan tergantung dari sudut pandang mana ybs mencernanya.

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s