Berburu Kayu Bakar


Berbekal sebilah golok, Bapak Ade, 52 tahun, pria paruh baya dengan 7 orang anak ini, setiap hari menyusuri perkampungan menggunakan gerobak yang didorongnya selepas subuh untuk mencari kayu bakar. Terkadang putra bungsunya yang baru berusia 2 tahun, hasil dari pernikahan ke duanya ikut menemaminya berkeliling. Istri pertamanya telah meninggal dunia sejak 3 tahun yang lalu.

Sekolah ditempuhnya hingga lulus SD saja. Lumayan, setidaknya sudah membebaskannya dari buta aksara. Meskipun demikian, Bapak Ade yang asli Garut ini, pada tahun 80-an dapat bekerja di sebuah pabrik tekstil di daerah Soekarno Hatta Bandung. Tempat yang mempertemukannya dengan almarhumah, istri beliau tercinta.

Kayu bakar menjadi andalan Bp. Ade untuk membuat asap dapur tetap mengepul dalam tanda kutip, juga dalam arti sebenarnya. Ya, hasil perolehan mencari kayu bakar, selain digunakan untuk memasak, juga sebagai jalan untuk menafkahi keluarga.

Satu gerobak penuh kayu bakar, dapat mencukupi keperluan dapur selama satu minggu. Ketika persediaan habis dan tidak berhasil mendapatkannya, Bapak Ade membeli kayu seharga 10 ribu kemudian dijual kembali sebesar 15 hingga 20 ribu rupiah. Dari keuntungan inilah beliau memenuhi kebutuhan keluarga.

Di zaman sekarang ini, ternyata masih banyak yang memilih kayu untuk dijadikan bahan bakar. Dengan penghasilan yang minim, bagi rakyat kecil seperti beliau tentu kesulitan membeli minyak tanah yang harganya bahkan melebihi bensin pertamax plus. Sedangkan menggunakan bahan bakar gas, meskipun jauh lebih hemat, banyak yang merasa tidak aman, terlebih banyaknya kasus tabung yang meledak. Beliau tidak berpikir jauh bahwa sebenarnya penggunaan kayu bakar ini berbahaya untuk kesehatan tubuh, dapat memicu radikal bebas penyebab kanker dan mengganggu saluran napas. Belum lagi polusi udara dan dampak yang ditimbulkammya untuk lingkungan. Baginya hanya memikirkan bagaimana agar keluarganya tidak lapar. Hanya itu.

Kayu bakar Pak Ade, didapat dari ranting dan batang pohon yang telah menua, dari pemangkasan pohon yang sudah mengganggu kabel listrik dan dari puing-puing bangunan. Pantang baginya menebang pohon yang telah kokoh berdiri. Mencari nafkah adalah kewajiban tapi tidak dengan mengabaikan kelestarian lingkungan seperti yang dilakukan pembalak liar yang seenak udel menyikat pepohonan di hutan. Baginya, carilah dengan santun dan terhormat. Tidak ada cerita mengambil kayu tergeletak, tanpa izin pemiliknya. Untuk apa meraih hasil berlimpah, tetapi menuangkan api ke dalam perut dari hasil yang tidak halal.

Menjadi orang kecil bukan berarti kerdil dalam perilaku. Kehati-hatian penting bagi beliau dalam upaya meraih rezeqi yang barokah. Karena banyak yang berhasil menjadi orang besar, tetapi miskin akhlak dengan mengambil hak-hak orang kecil. Jadi definisi besar bagi pelaku korup mengerucut menjadi kedzaliman nyata kepada rakyat. Jadi yang kecil itu siapa? Biar tidak su’udzhan, yang aman ya plankton di spongebob saja deh. Hehehe……..

Karena miskin, masyarakat kecil memilih kayu bakar, karena hal ini, bisa menjadi sakit. Sedangkan bagi orang kecil, sakit adalah musuh. Darimana biaya berobat yang mengurus SKTM dan Jamkesda saja harus mengurus birokrasi berbelit, keburu meninggal duluan sebelum kelar diurus.

Mengentaskan kemiskinan juga bukan perkara mudah, kita sebagai bagian dari bangsa ini juga harus berperan serta. Jadi pusing memikirkannya. Jangan terlalu lama berpikir, berbuatlah.. Iya, iya… Apa yang bisa saya perbuat ya….? Puyeng. Pemimpin yang berpikir seperti pemain catur, maksudnya lamaaaaaa sekali untuk melangkah, tentu maksudnya perlu pertimbangan matang dalam mengambil keputusan, tahu-tahu skak mat. Untuk masyarakat kecil seperti kami ini, menunggu terlalu lama menjadikan kami menghuni kubur lebih cepat.

40 thoughts on “Berburu Kayu Bakar

  1. rakyat kecil berjuang sendiri hanya demi sesuap nasi..mengetatkan ikat pinggang menahan lapar sudah biasa…
    sementara para penguasa seakan berlomba menghamburkan uang negara..pemborosan anggaran dengan berbagai dalih seakan lumrah..

  2. Aku lagi nonton Metro TV yg membahas DPR kita yg sedang foya2 Mbak Lia. Membaca ini kemarahanku semakin jadi. Kok isi DPR kita bangsat semua ya. Kok mereka gak tahu kalau sebagian besar rakyat Indonesia ini adalah Pak Ade..

    • Mereka pasti tau Mbak Vi. Hanya saja setelah menjabat anggota dewan yg dipilih oleh rakyat sendiri, mereka menjadi silau dg gaya hidup mewah. Melupakan betapa banyaknya rakyat kecil yg terengah-engah dihimpit kemiskinan. Ironis sekali.

  3. dibandingkan dgn anggota DPR yg kayak anak kecil itu, pak Ade ini lebih terhormat !
    aku suka sedih kalau pas liburan ke tanah air, lihat begitu mencoloknya perbedaan antara yg kaya dan yg miskin dan mereka mereka yg hidupnya berlebihan itu sama sekali nggak punya empati

    terus terang sering aku bandingkan dgn di sini, pemerintah sungguh memperhatikan warganya, wong pengangguran saja dibiayai pemerintah dari disewakan rumah, seisinya komplit, dikasih uang bulanan, belum semua anak juga dapat uang bulanan dr pemerintah (kalau ini mah semua anak di jerman dpt uang bulanan sampai mereka bisa mandiri) .. lagi lagi lain ladang lain belalang ya, ngenes saja kalau lihat org yg nggak punya di tanah air

    • Tidak keliru kalau dulu almarhum Gus Dur menyebut anggota DPR seperti anak TK, rebutan kue! Mengerikan.

      Entah kapan di Indonesia bisa seperti di Jerman, seperti bumi dan langit. Lha ini ceritanya studi banding ke negara maju, malah dipake pelesiran boyong keluarga. Aneh tapi nyata. Bagaimana bangsa ini mau maju. Pejabat malah sibuk memperkaya diri. Miris, pedih bgt melihat rakyat hidup susah, sementara di gedung dewan, mereka memanjakan diri bermegah-megah… Duh, bangsa ini…

      • apakah ada faktor nggak tahu malu itu ya ? rasanya kalau orang tahu malu pasti nggak akan spt anggota DPR itu deh, org di jakarta bisa melihat dgn mata kepala sendiri kok ada org tidur di trotoar kok mereka bikin toilet saja milyaran, berarti buta mata mereka

        bukannya mau membandingkan ya, di sini itu gedung DPR MPR dibuka 24 jam untuk rakyat, siapa saja (pernah aku posting ttg hal ini) dari mana saja orang itu, termasuk aku, namanya juga gedung rakyat, gedungnya terbuka, nggak ada pagarnya, nggak ada yang jaga, orang selalu antri mengular buat masuk ke gedung ini karena gratis, kalau pas lagi ada sidang umum ya pengunjung bisa menyaksikan langsung para politikus, asli …. aku iri sekali kapan bisa masuk ke gedung DPR RI, rasanya nggak mungkin ya org dijaga ketat begitu, hanya org org penting saja yg boleh masuk rakyat biasa mana bisa ?

        • Ini karena di sana, aspirasi rakyat didengar, dipahami, ditindak lanjuti dg langkah nyata. Komunikasi rakyat dan dewan berjalan baik. Mereka disiplin melaksanakan amanat yg diembankan.

          Di Indonesia, kali ini mereka cukup ‘tau diri’. Menyadari banyak aspirasi yg dibungkam atau tersesat entah di mana, merasa tidak aman dari rakyat sampai merasa perlu memasang barikade kawat berduri. Boro-boro leluasa keluar masuk gedung dewan. Masuk bui mah iya…

    • Sepakat. Itu yg diajarkan Rasulullah. Ada kerja keras di dalamnya daripada sekedar menengadahkan tangan.

      Boleh juga Den, melatih empati, merasakan sulitnya perjuangan hidup.πŸ™‚
      Terima kasih sudah singgah di rumah kecil. Salam.

  4. Talk Less Do More.. setuju banget Mas…
    Kita mesti berperan serta demi tercapainya kesejahteraan umum…
    Suka dengan basa yang digunkan saatmengatakan bahwa dengan berjualn kayu bakar yang membuat asap dspur bapak Ade terus mengepul Mas…

  5. cakep banget nich postingan sob….
    realita di negara kita mmg masih sangat jauh dari ideal….entah sampai kapan negeri ini bisa mengayomi rakyat kelas bawah dengan tulus tanpa ada embel apa2….negara kita sptnya mmg mendesak sekali utk diadakannya “revolusi mental” dan “revolusi moral” agar bisa bangkit dan menunjukkan wibawa di mata dunia internasional…!

    • Sudah saatnya kita, bangsa ini berubah menuju ke arah yang baik. Kalau kata Aa Gym, dimulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil dan dari sekarang.
      Semoga dari kesadaran pribadi, menjadi sebuah gerakan nasional. Thank’s ya..

  6. dengar dan baca para dewan seperti anak tk yang saling marahan dengan bermain kosa kata “ikan paus makan ikan salmon, ikan teri, dan ikan piranha” sampai aku mengingau dalam tidur ku mbak, aku marahi dua temanku yang aktivis partai. wadu celakanya suamiku tak menggugah tidurku malahan mendengarkan ocehanku di alam bawah sadar ku.

  7. jadi pengen kerja di pemerintahan.
    seenggaknya Insyaallah saya bisa hadir untuk membuat bersih pemerintahan di Indonesia, minimal tingkat desa deh..

    • Hahaha…… Iya, setuju. Tukar posisi biar merasakan susahnya dilayani oknum pejabat matre. Saya bilang oknum, berharap di negeri ini masih ada pemimpin yang mencintai dan peduli dengan rakyatnya.
      Salam kenal kembali.
      Trims sudah berkunjung.

  8. Jika sudah terhimpit, solusi terdekat pastinya jadi acuan. Seperti hal nya gambaran kemiskinan diatas demi sebatas dapur mengepul saja. Menunggu kepedulian penguasa rasanya susah, bukan hal pesimis tapi kita semua sepertinya sudah tahu nyatanya seperti apa.

  9. aku rasa-rasa,… lebih enak masakan pake kayu bakar daripada pake elpiji bang. . . . dan resikonya lebih kecil…. lebih keren lagi klo ditambah buat usaha jual kayu bakar gitu… pasti menguntungkan deh. . .

    • Hehe, sepakat, memasak dg kayu bakar aromanya khas bgt, maknyusss. Tapi jangan sering2, khawatir efek jangan panjangnya buat kesehatan.
      Mencari kayu bakar jauh lebih hebat dari meminta2 apalagi dari ngorup…
      Trims sudah berkunjung ke rumah kecil.

    • Wow, keren bgt. Salut dan senang saya dengar kabar ini. Menjadi anak dari orang tua yg berkekurangan, justru menjadi penyemangat bagi ybs untk bisa berprestasi.
      Semoga ia, anak tsb dpt mengangkat kesejahteraan keluarganya. Ayahnya pasti bangga sekali.

  10. mampir disini atas rujukan dari DuniaEly…
    Saya cari kesana sini , kok ga ada ABOUT (pemilik blog) …nya??
    ga lengkap kalo ga kenal dekat si pemilik..hehe, salam kenal!

    • Iya nie ada kesalahan teknis, haha jurus ngeles dari gaptek sejati. Maklum newbie masih banyak yang harus dilengkapi.
      Salam kenal kembali. Makasi sudah mampir yaaa……πŸ™‚

  11. Kalau di postingan ini ada Pak Ade, di lingkungan tempat tinggalku banyak juga Pak Ade-Ade lainnya. Ada Pak Mamat, misalnya…bekerja sebagai pemulung, kuli, mengangkut sampah kotor milik warga dan dibuang ke penampungan akhir. Beliau kerja keras asal hasilnya halal sekalipun lokasi tempat kerjanya jorok, kotor tetapi bagi Pak Mamat justru menyenangkan. Dia sehat, jarang sakit.
    Maka benar adanya kalau berbagai komentar miring yang dilontarkan pembaca mengenai korupsi berjamaah di Republik kita saat ini, khususnya anggota DPR, sangat marak dan beragam komentarnya. Mereka kerja di tempat bersih, mentereng, bau wangi…akan tetapi hasilnya kotor dan tidak halal.
    Sedangkan tempat kerja Pak Mamat kotor bau, tetapi hasilnya halal. Dia tidak pernah nilep apa itu uang sampah iuran warga. Baginya dia akan senang jika sampah kotor milik warga sudah dibersihkan dan diangkut ke TPA.

    • Benar. Kotor belum tentu kotor. Bersih belum tentu bersih. Karena kita terlalu biasa memandang sebelah mata kepada orang-orang yang berkekurangan secara materi. Padahal kerja keras Pak Ade dan Pak Mamat ini sebagian contoh kecil saja. Para petinggi di pemerintahan ini seharusnya terjun langsung, melihat apa yang sebenarnya terjadi di lapisan masyarakat terbawah biar tidak kemaruk apalagi ngorup.

  12. Karena rata-rata wakil rakyat kita bejat moralnya makanya setiap ada pemilihan wakil rakyat saya putuskan untuk golpul.biarlah di bilang orang saya bukan warga negara yang baik atau yang lainya.tapi yang jelas pripsib saya lebih baik gak memilih dari pada memilih wakil rakyat yang gak amanah seprti saat ini.

  13. saya punya kayu bekas membangun rumah lumayan buat kayu bakar ada 1 mobil kol ada yang berminat hubungin saya 085222844622

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s