Always Listening Always Understanding

Judul di atas diambil dari jargon iklan Prudential di layar kaca yang menarik perhatian saya. Sederhana, tapi tepat. Siap menampung setiap keluhan nasabah dengan baik. Jargon yang harus dijaga agar sesuai antara yang diusung dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Always-nya itu lho, harus jaim berat juga ya…

Perihal mendengar ini, saat saya masih kelas 2 SMP, waktu itu saya kebagian duduk di bangku paling belakang, guru geografi saya sedang menjelaskan materi di depan kelas. Dengan berpikir kami tidak begitu terlihat, saya asik was wis wus dengan teman sebangku. Ndilalah, saya keliru. Tiba-tiba saja nama saya disebut, “Lia, coba jelaskan yang bapak jelaskan tadi!” Waduh, gawat! Saya a i u gelagapan. Nyengir, merah merona jadi merana….
Inilah yang dinamakan masuk dari telinga kiri keluar dari telinga kanan, alias numpang lewat doang, nggak nyangkut di kepala, apalagi paham…. Jauhhh….

Ah, ternyata memang tidak sesederhana itu. Mendengar di sini tidak hanya proses penerimaan bunyi dari telinga ke otak. Pengertiannya meluas, di dalamnya terdapat irama, aspirasi, keluhan, kritik, keinginan, harapan dan keinginan-keinginan lainnya. Permasalahannya apakah kita siap dan ikhlas membuka hati untuk mendengarkan dengan seksama? Barangkali selalu, sering, belum, kadang-kadang, atau mungkin juga enggan. Terkadang ego, rasa keakuan juga bermain, terserah gue dong, egp, kamu yang mesti dengerin. Aku dan aku…. Yaaaa…. begitulah kira-kira….

Mendengarkan yang paling asik, tentu bagi penggemar musik adalah mendengarkan lagu dari musik atau penyanyi favoritnya. Dulu mungkin saya suka banget. Sekarang saya bahkan kesulitan tidur jika ada suara musik, jam dinding, bahkan tetesan air dari kran yang tidak tertutup sempurna. Jika lembut mengalun lagu pengantar tidur, bukannya relaks, pikiran saya malah melanglang buana mengeja syair dan musiknya. Akibatnya saya ga bisa merem, tadinya saya mau nulis melotot, ga jadi ah, jaim boo… Xixi.

Dalam prosesnya, mendengar versi (baca:aspirasi) ini tentu melibatkan dua belah pihak. Subjek sebagai pelaku penyampai pesan (komunikator) dan objek sebagai penerima pesan (komunikan). Agar dapat diterima dengan baik, caranya mungkin yang harus kita perhatikan. Terlalu njlimet, berputar-putar, jauh dari santun, hanya akan membuat lari saja. Bukannya beradu pikir, malah beradu otot. Aspirasi yang melahirkan anarkis? Atau pendengar pemberangus aspirasi? Pendengar di sini, pemerintah vs rakyat? Walah, malah merasuk ranah yang ini…. Stop ah, ngeri.

Menjadi pendengar yang baik tidak semudah itu. Perbedaan pola pikir, pemahaman, usia, mood, gender (?) berpengaruh terhadap penerimaan sebuah aspirasi (baca:kritik). Ada yang menganggapnya sebagai sebuah serangan akan kenyamanan posisi, atau ada juga yang menjadikannya sebagai lecutan agar menjadi lebih baik lagi.

Menjadi merasa bersalah ketika anak-anak menyampaikan protesnya, saya terkadang hanya menjawab ntar dulu, ya ya, bagus, cukup, lain kali saja, belum waktunya dan banyak lagi penolakan lainnya. Bagaimana pesan dapat disampaikan dengan baik, jika saya memotong pembicaraan yang disampaikan anak, padahal Rasulullah telah melarangnya? Padahal maksud dari anak-anak adalah, “Ummi, tolong hentikan sejenak, kami perlu perhatianmu…..”

Setiap kita adalah komunikator sekaligus komunikan. Apakah kita termasuk mereka yang selalu mendengar dan memahami? Apa yang engkau rasakan sobat ketika sebuah kritikan menghampirimu? Selalu ada retak di setiap gading. Terima kasih telah mendengarkan tulisan ini melalui pikir dan rasa hati sahabat semua.
Salam hangat.

14 thoughts on “Always Listening Always Understanding

  1. Insya Allah biah dan kita semua harus menjadi always listening n always understanding…. :*:*:* karena dengan jargon itu, maka kita akan selamat dunia ahirat…

  2. nggak semua orang memang bisa jadi pendengar yg baik, biasanya maunya malah harus dia yg didengarkan. Jadi salut sama orang orang yang bisa menjadi pendengar yg baik

    saat ini aku juga dapat kritikan dari beberapa pembaca di blog ku, kritakannya membangun kok, jadi ya seneng seneng saja, tapi memang tidak semua orang bisa menerima kritikan kalau nggak biasa, aku juga sama, namanya juga manusia ya …. anggap saja kalau ada orang yg mengkritikku berarti org itu perhatian sama aku. salam hangat kembaliπŸ™‚

    • Menjadi pendengar yang baik perlu kesabaran dan ketangguhan mental ya Mbak El. Karena ia berada dalam posisi ‘terdesak’. Barangkali dengan komunikasi yang baik dapat menghasilkan win win solution.

      Senang ya jika ada yang mengkritik kita, kritik membangun bukan menjatuhkan, sehingga kita semangat untuk berbuat yang lebih baik.
      Terima kasih telah berbagi.πŸ™‚

  3. Jadi sekarang tahu nih aku panggilannya, Mb Lia..:)
    Betul Jeng, menjadi pendengar aktif itu tidak mudah, butuh latihan. Kita perlu memposisikan diri terhadap orang yg mengatakan sebelum kita betul-betul mengerti…:)

    • Hehehe…. Saya sudah proklamasi terselubung Mbak Vi. Terima kasih sudah menyimak dengan seksama.πŸ™‚

      Komunikasi yang berjalan baik berasal dari dua arah. Saling memahami sebelum menghakimi, sehingga empati itu dapat tercipta….

  4. tersentil sya membaca postingan ini….
    awalnya mmg agak susah buat kita untuk berbuat lebih arif dan bijak dalam berkomunikasi dua arah…namun dng hati yg lapang sptnya komunikasi yang ideal tentunya akan mudah kita capai..

  5. Banyak orang dapt menjadi pembicara yang baik, namun belum tentu ia bisa menjadi pendengar yang baik.
    Adalah sebuah proses panjang yang dibutuhkan untuk hal ini..
    Salam kenal..

    • Salam hangat kembali. Iya nih, tulisan ini juga bukan berarti saya selalu mendengarkan, krn ego juga harus dikendalikan.
      Terima kasih sudah berkunjung.πŸ™‚

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s