DARAH

Bukan tentang cairan merah yang mengalir di setiap tubuh-tubuh kita. Ini tentang semangat yang harus bersemayam dan digelorakan dalam setiap napas, gerak dan pikir.

Memahami tidak selalu ada hadirnya. Sebuah semangat terkadang atau bahkan sering menurun. Manusiawi tentunya. Tetapi katakan tidak untuk selalu.

Sahabat kecil saya, lima bulan setelah pertama kali ia divonis kanker rahim stadium 1, meningkat drastis menjadi stadium 3b sampai akhirnya meninggal dunia pekan kemarin, meninggalkan kedua putranya yang masih balita. Ternyata dari cerita ibunya, almarhumah menjalani hari-harinya tanpa semangat yang memperparah keadaannya. Sayangi dan ampunilah beliau Rabb… Sungguh saya memahami apa yang terjadi ketika seolah kematian itu benar-benar ada di pelupuk mata. Tetapi di saat kita menjadi terpuruk dan mengutuk keadaan maka di saat yang sama kita telah membunuh imun-imun yang membuat kita bertahan.

Ada sebuah pepatah, lebih baik alpa daripada hadir tanpa semangat. Tubuh tanpanya seperti raga-raga hampa yang berjalan. Semangat adalah darah yang memampukan kita untuk berkarya.

Keluarga saya dan kehadiran sahabat semua adalah apresiasi berharga dan menjadi darah segar ketika semangat saya tengah menurun. Tentu bukan karena saya vampir. Hehe…

Terima kasih telah menjadi darahku. Berharap hadir dan darahku menjadi darahmu untuk mengawali pagi dan menanti fajar di hari yang baru.

Let’s rock!

Iklan

COBRA

Tepat di depan rumah, terdapat tanah luas sekira satu hektar milik tetangga baik saya. Kini di lokasi ini telah berdiri sebuah masjid dan saung bambu yang menjadi gravatar Hijihawu. Lahan yang kosong digarap oleh Bi Empat dan suaminya.Tanah ini kemudian ditanami berbagai bahan tanaman kebun seperti pisang, ubi, sawi, cabe rawit, pepaya, dll. Selebihnya ada sebuah kolam kecil untuk budidaya ikan lele.

Kepik, nyamuk, ulat bulu tentu saja mereka menjadi penghuni setia tanah ini. Ternyata selain para serangga ini, terdapat juga reptil hitam keren, ular cobra sob!
Ular ini memiliki panjang sekitar 120 cm dengan diameter tubuhnya 4 cm. Sisik tubuh atasnya hitam mengilat, sedangkan bagian bawahnya putih berkilau seperti mutiara, cantik sekali. Bi Empat sempat dibuat kebat-kebit melihat ular ini sedang melingkar di bawah tangga gudang dengan kepalanya yang serupa sendok berdiri tegak.

Saya pernah melihatnya menjelang maghrib sepulang belanja. Ular ini dengan santainya melintasi jalan menuju pohon angsana. Waktu itu saya tengah di atas motor, kalau berjalan kaki, dapat dipastikan saya lari tunggang langgang. Takuuudd…

Karena ular ini sudah terlalu sering narsis di wilayah ini, khawatir membahayakan keselamatan warga, beberapa waktu yang lalu dipanggillah seorang kakek pawang ular. Beliau menyingkapkan bebatuan, mengamati lubang, juga menelusuri sisa sisik ular dari proses pergantian kulit. Tahu tengah dicari, ular ini ngumpet semakin dalam. Entah di sarang yang mana…. Pencarian tidak berhasil, padahal ular ini diburu bukan untuk dibunuh, melainkan dipindahkan ke tempat yang lebih kondusif dan aman untuknya dan juga untuk kami warga di sini.

Di jalan inilah ular ini sering melintas

Seperti sebuah perdebatan antara ayam dan telur ayam, siapakah yang lebih dulu ada di muka bumi ini. Demikian juga, siapa yang lebih dulu menghuni tanah ini? Kami atau cobra itu? Jadi, siapa mengganggu siapa?
Alam ini diciptakan dengan keseimbangan yang sempurna. Sedikit atau lebih saja pada sebuah sistem rantai makanan, akan mengusik keteraturannya, dapat membuat ledakan populasi yang timpang. Populasi manusia yang terus berkembang, berbanding lurus dengan kebutuhan akan tempat tinggal yang otomatis perlahan menggerus habitat hewan dan memaksa mereka untuk turun gunung. Maka tidak sedikit kasus manusia yang dimakan harimau, gajah yang mengamuk menghancurkan perkebunan dan perumahan warga… Siapa yang patut disalahkan? Kita, manusia atau para hewan itu?

Diperlukan langkah bijak untuk hal ini. Sesuatu yang ekstrem dan tanpa kendali akan merubah tatanan alam. Harus ada win win solution. Manusia damai, habitat hewan pun tidak terganggu. Punya solusi jitu kawan?

Siang menjelang dzuhur, saya dikejutkan dengan sebuah teriakan. Lebih tepatnya, peringatan, agar kami lebih berhati-hati ketika sedang berada di kebun dan sekitarnya, karena kehadiran ular -ular ini.

Lalu di bawah terik matahari, tampak oleh saya, sang cobra sudah terkulai di tengah jalan. Jika saja ada seorang Panji atau kakek pawang ular ketika sang cobra muncul, barangkali kisahnya akan lain… Mungkin ia tengah mengumpulkan dedaunan kering untuk pertumbuhan telur-telurnya di hutan… Bergembira bercengkerama dengan keluarganya yang lain di habitat terbaiknya… Inilah pertama kalinya saya menyentuh indah kulit cobra tanpa kaca pembatas. Tidak lama kemudian ular ini pun kaku. Perih sekali…

Di tanah ini, anak-anak saya, anak-anak TK dan SD hingga orang tua lanjut usia berolahraga, makan bersama, melakukan kegiatan Pramuka…. Kini berakhirlah sudah, sebilah kayu mengakhiri perburuan sang cobra mengejar sang katak…

Lalu bagaimana denganmu sobat, ketika seekor cobra ada di depanmu? Apakah diam mematung seolah kaki tertancap dalam ke perut bumi? Menguji nyalimu untuk menaklukan ular ini? Berlari menjauh? Atau membuatnya kaku?

Peraturan nomer satu, jangan panik! Ke dua, putuskan jawabanmu. Ke tiga, menuliskannya.

Berburu Kayu Bakar


Berbekal sebilah golok, Bapak Ade, 52 tahun, pria paruh baya dengan 7 orang anak ini, setiap hari menyusuri perkampungan menggunakan gerobak yang didorongnya selepas subuh untuk mencari kayu bakar. Terkadang putra bungsunya yang baru berusia 2 tahun, hasil dari pernikahan ke duanya ikut menemaminya berkeliling. Istri pertamanya telah meninggal dunia sejak 3 tahun yang lalu. Baca lebih lanjut

MUAL

Apa yang anda lakukan ketika mual mendera? Mual, mules, perih, kembung, keluarga besar sakit di lambung. Barangkali minum obat maag, teh manis, jahe dan bandrek menjadi salah satu jalan ke luar untuk menghilangkannya.

Tetapi tahukah Anda sobat, ternyata ada mual yang jauh lebih kronis dari penyakit fisik di atas? Karena hal inilah banyak yang memilih menunggu bertopang dagu, menanti rezeqi tanpa bersusah payah. Inginnya makmur dengan instan. Pergi ke dukun, pesugihan dan praktek klenik lainnya. Ini sebuah contoh saja. Mungkin hal seperti ini sudah tidak ada? Dan ada yang tanpa klenik tapi profesi menjual iba, menjadi pengemis! Meminta-minta di lampu merah, di mikrolet. Kekurangan fisik menjadi andalan utama. Padahal jika saja mau berkaca, banyak sekali sahabat yang disable, sukses meniti karir, berpendidikan tinggi dan benar-benar luar biasa menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya dengan sangat baik.

Yang malak bukan pengemis, itu bulliying, kriminal. Kalau sahabat naik metro mini di Jakarta, banyak dijumpai mereka yang sambil mabuk, pakai jurus ngibul, plis Pak Bu bantu kami menebus sahabat kami yang terluka di rumah sakit. Seribu dua ribu tidak akan membuat Anda miskin. Haa? Enak amat ya…..

Ya, yang begini ini penyakit mual penyebab jatuh miskin. Lho? Tentu, karena mual di sini adalah MMMUALAS KERJA!

SEGENGGAM MELATI

Rupanya angin terlalu perkasa untuk membiarkan melati tetap bertahta di pepucuk daunnya.
Pekat kabut belum beranjak pada pagi tanpa sapa hangat mentari.
Embun menetes bagaikan mutiara di ujung ilalang.
Melangkahku perlahan mengumpulkan melati yang terserak di rerumputan.
Mewangi di antara aroma gerimis yang mulai mewarnai fajar.
Anganku berharap pelangi.
Pupus.
Sudahlah, tak kunjung jua surya itu bersinar.
Deras memaksaku kembali ke peraduan.
Segenggam melati kini anggun menempati pinggan kecil.
Mereka menyeruak, menebar harum pesonanya yang sederhana.
Mungil namun hadir.
Asaku menjelma menjadi dirinya.
Mewangi meski hanya sehari.
Apakah sebuah pilihan jika besar namun tanpa makna seperti gagah kuning alamanda?
Tanpa makna katamu?
Kesia-siaan tiada dalam harmoni alam ciptaanNYA.
Lihatlah para serangga yang riang lalu lalang di dalamnya.
Ketikaku terjebak dalam dua pilihan yang manakah…
Menjadi apa dan siapakah…
Cermin menjadi jawab…
Syukuri dan berbuatlah meski sebesar dzarrah…
Baca lebih lanjut

Always Listening Always Understanding

Judul di atas diambil dari jargon iklan Prudential di layar kaca yang menarik perhatian saya. Sederhana, tapi tepat. Siap menampung setiap keluhan nasabah dengan baik. Jargon yang harus dijaga agar sesuai antara yang diusung dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Always-nya itu lho, harus jaim berat juga ya…

Perihal mendengar ini, saat saya masih kelas 2 SMP, waktu itu saya kebagian duduk di bangku paling belakang, guru geografi saya sedang menjelaskan materi di depan kelas. Dengan berpikir kami tidak begitu terlihat, saya asik was wis wus dengan teman sebangku. Ndilalah, saya keliru. Tiba-tiba saja nama saya disebut, “Lia, coba jelaskan yang bapak jelaskan tadi!” Waduh, gawat! Saya a i u gelagapan. Nyengir, merah merona jadi merana….
Inilah yang dinamakan masuk dari telinga kiri keluar dari telinga kanan, alias numpang lewat doang, nggak nyangkut di kepala, apalagi paham…. Jauhhh….

Ah, ternyata memang tidak sesederhana itu. Mendengar di sini tidak hanya proses penerimaan bunyi dari telinga ke otak. Pengertiannya meluas, di dalamnya terdapat irama, aspirasi, keluhan, kritik, keinginan, harapan dan keinginan-keinginan lainnya. Permasalahannya apakah kita siap dan ikhlas membuka hati untuk mendengarkan dengan seksama? Barangkali selalu, sering, belum, kadang-kadang, atau mungkin juga enggan. Terkadang ego, rasa keakuan juga bermain, terserah gue dong, egp, kamu yang mesti dengerin. Aku dan aku…. Yaaaa…. begitulah kira-kira….

Mendengarkan yang paling asik, tentu bagi penggemar musik adalah mendengarkan lagu dari musik atau penyanyi favoritnya. Dulu mungkin saya suka banget. Sekarang saya bahkan kesulitan tidur jika ada suara musik, jam dinding, bahkan tetesan air dari kran yang tidak tertutup sempurna. Jika lembut mengalun lagu pengantar tidur, bukannya relaks, pikiran saya malah melanglang buana mengeja syair dan musiknya. Akibatnya saya ga bisa merem, tadinya saya mau nulis melotot, ga jadi ah, jaim boo… Xixi.

Dalam prosesnya, mendengar versi (baca:aspirasi) ini tentu melibatkan dua belah pihak. Subjek sebagai pelaku penyampai pesan (komunikator) dan objek sebagai penerima pesan (komunikan). Agar dapat diterima dengan baik, caranya mungkin yang harus kita perhatikan. Terlalu njlimet, berputar-putar, jauh dari santun, hanya akan membuat lari saja. Bukannya beradu pikir, malah beradu otot. Aspirasi yang melahirkan anarkis? Atau pendengar pemberangus aspirasi? Pendengar di sini, pemerintah vs rakyat? Walah, malah merasuk ranah yang ini…. Stop ah, ngeri.

Menjadi pendengar yang baik tidak semudah itu. Perbedaan pola pikir, pemahaman, usia, mood, gender (?) berpengaruh terhadap penerimaan sebuah aspirasi (baca:kritik). Ada yang menganggapnya sebagai sebuah serangan akan kenyamanan posisi, atau ada juga yang menjadikannya sebagai lecutan agar menjadi lebih baik lagi.

Menjadi merasa bersalah ketika anak-anak menyampaikan protesnya, saya terkadang hanya menjawab ntar dulu, ya ya, bagus, cukup, lain kali saja, belum waktunya dan banyak lagi penolakan lainnya. Bagaimana pesan dapat disampaikan dengan baik, jika saya memotong pembicaraan yang disampaikan anak, padahal Rasulullah telah melarangnya? Padahal maksud dari anak-anak adalah, “Ummi, tolong hentikan sejenak, kami perlu perhatianmu…..”

Setiap kita adalah komunikator sekaligus komunikan. Apakah kita termasuk mereka yang selalu mendengar dan memahami? Apa yang engkau rasakan sobat ketika sebuah kritikan menghampirimu? Selalu ada retak di setiap gading. Terima kasih telah mendengarkan tulisan ini melalui pikir dan rasa hati sahabat semua.
Salam hangat.