RINAI

Rumah kecil. Saya suka tempat ini. Terdampar di antara rumah-rumah besar. Sejatinya lebih besar dari rumah-rumah itu. Karena hampir setiap hari para tetangga menitipkan kunci rumahnya. Yach, inilah resiko rumah pojok terakhir sebelum dunia luar. Hehehe. Di sini sepi. Jauh dari persaingan the berisikest knalpot yang memekakkan telinga. Yang lucu, suaranya saja yang turungtung, larinya ra ono. Kena tilang polisi baru nyaho! Ada-ada saja. Siulan burung menjadi nyanyian indah buat saya. Kutilang, pipit, kolibri… Ah, suara alam yang damai. Jangan sembarangan membunuh mereka bidikers! Tidakkah kalian lihat papan seng atau apapun lah namanya, Dilarang Mengganggu Burung di Kawasan ini. PP no sekian sekian. Eh, oh, sudah luntur bro. Yaa, pokoknya janganlah! Saya suka saat langit berwarna navy sebelum ia menjadi pekat. Keramaian di sini hanya terjadi di sekitar lampu jalan yang angkuh dikerumuni laron. Seringkali terlihat ular yang melintas dari bunga irish ke rerumputan di seberang jalannya. Apalagi beredarnya isu sering terlihat kuntilanak di rumah megah di ujung jalan. Semakin sunyi saja.

Sudah seharian Adi hadir di rumah kecil. Tadi ia berjalan kaki dari rumahnya ke sini. Maksud kedatangannya selain bermain, juga hendak mengambil sepeda yang ditinggalkannya kemaren. Ade tidak ikut. Denyutan di lubang giginya masih menyisakan trauma besar. Adi sudah gelisah menanti Papanya yang katanya akan menjemput belum datang juga. Demikian pula saya. Adik ipar saya dari Cileungsi hendak berkunjung. Tidak etis rasanya, tamu jauh datang, sedangkan saya pergi ke tempat yang seharusnya dilakukan orang tuanya sendiri.
Saya bilang, Adi, kalau tidak ada yang menjemput, Adi tidur dengan Mujib yaa. Wuaaahh, Adi gembira.
Akhirnya dengan ponsel Mujib, karena pulsa saya habis, dihubungilah ibunya Adi yang ternyata masih di jalan. Kira-kira setengah jam kemudian sampailah beliau di rumah kecil. Saya kira akan dijemput dengan Ford hitamnya. Ibu Adi datang dengan Vario lengkap dengan jas hujan jubah. Hebatnya, meski kuyup di balik busana besar, wajah anggun dan makmurnya tetap nampak! Wah waah. Beliau tidak mampir masuk karena hari juga sudah gelap. Adi masih makan, kemudian beliau bilang agar Adi sudah harus tiba di rumah jam 4 sore. Karena sudah beberapa hari ini guru privatnya tidak mendapati Adi dan Ade. Ooooo…. Tahu saya sekarang, jadi mereka tidak mau pulang karena menghindar, alias ngeles dari ngeles. Xixixi, anak cerdas. Akhirnya kedua sepeda Adi dan Ade masih menginap juga di rumah kecil. Menambah deretan motor dan sepeda yang penuh sesak di garasi.

Senin sepulang sekolah, Adi membawa anggota baru, Kemal. Rumahnya dekat dengan Adi. Dari sekolah jalan kaki agar sepeda bisa dibawa pulang. Mendung. Adi dan Kemal pulang. Revan diantar Pak Heri, sobat Abah. Deaz tetap di rumah. Seperti biasa, Deaz dan Mujib bermain Plants VS Zombies, belum bosan rupanya. Tidak berapa lama, Adi dan Kemal datang lagi. Ngos-ngosan. Ada apakah gerangan? O ow, rupanya kedua tas mereka tertinggal. Padahal rumah sudah kelihatan. Terpaksa kembali lagi ke rumah kecil dengan membawa oleh-oleh, celana berlumpur! Satu-satunya jalan memotong menuju rumah, hanya melalui jembatan penyeberangan di atas jalan tol Cipularang. Resikonya ya itu tadi, harus siap blusukan di pematang becek dan parit kecil. Dipinjamkan celana Mujib mereka segan. Jadi hanya dibilas sedikit lalu lanjut mengerumuni monitor berzombi. Hujan deras menahan mereka untuk langsung pulang. Hhhh, siap-siap kena semprot bibi lagi.

Anak-anak ini sudah mulai sering berkumpul di rumah kecil. Jujur saja, saya lebih menyukai mereka bermain di luar daripada berdiam di depan komputer. Memang mereka saya batasi hanya boleh memainkan game yang bersih dari kekerasan, pornografi dan pornoaksi. Dikhawatirkan walaupun di dunia hayal, akan membenamkan pola pikir bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan hanya melalui kekerasan. Dan ini bahaya. Sesekali saya ajak mereka gowes bareng ke sebuah taman bermain atau membeli penganan kecil. Sepertinya saya sudah harus memikirkan bagaimana mengalihkan dunia games dengan sesuatu yang lebih aktif juga kreatif. Eksplorasi alam! Ya, mungkin ini menjadi ide menarik agar mereka menaruh minat tentang sekitar mereka. Menyibak ilalang, berburu kepik yang ternyata tidak hanya merah berpolkadot hitam, mengumpulkan aneka bunga kecil, mengelompokkan berbagai daun. Ah, terlalu banyak yang belum disentuh.

Hujan sudah mereda. Adi, Kemal dan Deaz pamit. Tentu menempuh jalan berlumpur itu lagi. Bagi mereka dan juga saya kecil, ini mengasikkan dan seru.

Cuaca memang tidak menentu akhir-akhir ini. Cerah berawan. Kadang terik sangat. Keesokan harinya hujan seharian. Seperti malam ini. Tetesan hujan lembut terdengar. Gerimis mengundang, kata sebuah lagu. Apanya yang mengundang? Mengundang dingin yang jelas. Di luar memang gerimis, tetapi tidak segerimis menyaksikan Mujib menggigil dengan suhu badan yang meninggi.

16 thoughts on “RINAI

  1. Maaf, sekedar saran, cobalah bikin artikel pengetahuan, atau artikel umum,
    tidak baik menulis tntang kehidupan sehari-hari kita kepada publik.
    Biar bagaimanapun kehidupan kita adalah aurat, yang harus ditutupi.
    Maaf yaa Sayang…. Sekedar saran.

    • Syukran sebelumnya. Hidup tidak terlepas dari rutinitas yang kita jalani sehari-hari dan harus bergulir. Bukan pada kapasitasnya jika Ummi menuliskan hal lain yang sama sekali tidak dikuasai.
      Tidak semua pihak dapat menerima sebuah kritikan atau teguran. Karenanya di setiap postingan yg diambil dari kejadian sehari-hari sbg sebuah catatan harian diusahakan diselipkan nilai tersirat yg semoga saja dapat diambil manfaat atau pembelajaran (jika pun ada) tanpa harus berkesan menggurui. Sama sekali tidak bermaksud untuk mengumbar, karena tokoh-tokoh di dalamnya pun hanya diketahui mereka yg mengenal secara nyata, bukan maya dan fiktif.
      Ummi harus belajar lagi nie. Makasi yaa masukannya… Boleh gitu sun di sini, hehe, muacch…

  2. Pastinya menyenangkan membesarkan anak-anak di lingkungan yang akrab pada alam seperti itu ya Mbak. Tulisannya menarik, melankolis dan penuh rasa keibuan. Salam dari saya🙂

    • Di sini tantangannya Mbak Evi. Selama ini saya pasif padahal alamnya tersedia. Saya harus terlibat di dalamnya agar anak-anak pun cinta untuk menjaga lingkungannya.
      Terima kasih Mbak.
      Salam hangat.

  3. menyenangkan kalau msh hidup dikelilingi alam yg hijau spt saya di kampung sini di mana msh bisa lihat ribuan burung, rusa liar dan hewan hewan liar lainnya hidup berdampingan dgn manusia dgn damainya🙂

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s