LIMASKEETERS

Adalah Mujib anak saya, Revan, Deaz, Adi dan Ade. Mereka berlima kecuali Ade, duduk di bangku kelas 3 di salah satu SDIT di Bandung. Sedangkan Ade, adiknya Adi masih di kelas 1.

Revan, anak berkaca mata, tubuhnya tinggi dan gempal, kulitnya sedikit gelap. Tutur kata dan perilakunya halus dan sopan. Berbicara dengan sangat baik, mengalahkan saya, tertata dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Deaz, perawakannya sedang-sedang saja, berkulit sawo matang. Apabila tertawa, dua gigi seri atasnya lebih terlihat daripada gigi lainnya.

Adi, tubuhnya tidak terlalu kutilang dan berkulit putih. Sedangkan Ade, sang adik, memiliki tubuh lebih padat dan lebih gelap.

Kelima anak ini, rambutnya tajam, duri landak saya kecil menyebutnya kepada mereka dengan rambut cepak berdiri.
Saya senang dengan anak-anak ini, bahasa mereka bersih dari sebutan penghuni kebun binatang.

Dalam satu minggu, mereka bertemu di sekolah selama lima hari mulai dari jam 07.30 hingga jam 15.00. Kecuali Mujib, mereka pergi dan pulang sekolah menggunakan kendaraan jemputan. Sesekali Revan dijemput oleh ayahnya dengan mobil sedan. Sedangkan Mujib, saya jemput dengan bebek besi yang tidak bisa berenang atau sepeda. Meski butut, Si Pamer (Sepeda Merah) dengan kursi rotan bertengger di rangkanya, tempat duduk putri kecil saya kalau merengek minta ikut emaknya, berjasa banyak, hemat bos, xixi, boros di keringat saja. Heheh. Sedangkan kakaknya dibonceng di belakang. Kalau gowesan saya menyiput, Mujib membantu menyemangati saya biar mengayuh lebih cepat. Bukannya apa-apa, kalau lelet ia bisa melewatkan Marsuphilami, Si Huba-huba! Duhhh, gowes bertiga triple capeknya!

Beberapa hari belakangan ini Deaz enggan ikut jemputan. Ia lebih suka ikut dan main terlebih dahulu di rumah Mujib. Sudah jam 4, hari sudah mendung, Deaz tidak mau pulang. Dengan bujukan, akhirnya Deaz mau saya antar dengan kuda besi saya.
Tiba di rumahnya, sepi. Pagar masih tertutup rapat. Saya menanti di luar menunggu hingga Deaz masuk rumah. Ia tampak berkeliling mencari sesuatu. Akhirnya saya turun. Ternyata kunci yang biasa diletakkan ibunya di atas pot tidak ada! Saya menunggu, sambil menghubungi ponsel ibunya, tidak ada jawaban, mungkin sedang di jalan. Melihat Deaz bersama orang asing, anak-anak usia 5 tahunan menghentikan permainan karetnya, mengintip dari luar pagar, saya memang alien, orang asing, iya toh? Kemudian para tetangga mulai datang, ibu siapa, gurunya? Dari Deaz saya tahu bahwa ia tinggal hanya bersama kakaknya yang belum pulang sekolah dan ibunya saja. Sedangkan ayahnya sudah tidak serumah lagi. Saya pamit ketika ada ibu tetangga yang mengajak Deaz serta ke rumahnya sembari menunggu ibunya pulang bekerja.
Keesokan harinya Deaz ikut saya lagi, saya antar pula pulang ke rumahnya yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumah saya. Kali ini kakaknya sudah ada di rumah. Saya tenang. Di pertigaan saya berpapasan dengan motor ibunya, berbincang sebentar, ibunya berkata bahwa ia sudah mewanti Deaz agar tidak mampir ke rumah saya karena takut merepotkan. Saya bilang tidak apa-apa Bu. Saya menangkap sinar tersayat dari matanya yang berkaca-kaca, karena keadaanlah yang memaksanya meninggalkan Deaz sendiri.

Mengetahui Deaz main ke rumah, tidak lama berselang, Revan, Adi dan Ade datang bersepeda dengan baju kebangsaan, t-shirt dan celana bermuda. Petir sudah menggelegar, Revan pamit pulang lebih dulu. Adi dan Ade bertahan, nanti saja Mi jam 5 pulangnya. Hujan turun dengan derasnya. Setelah meni’mati roti yang saya sajikan Adi dan Mujib bermain Plants VS Zombies. Saya rebah, lelah. Tiba-tiba Ade menangis, masya Allah, ia sakit gigi. Ade meraung memegang pipinya. Gawat! Segera saya beri Praxion. Ade masih berderai, saya elus rambutnya, Mamaaa….. Hati saya pedih. Ade tertidur. Posisi bantal terlalu tinggi, ketika dibetulkan ia terbangun, kembali berujar, Mamaaa…. Tidak ada. Ade beringsut menghampiri merapatkan tubuhnya ke kakaknya. Obat sudah bereaksi. Saya bujuk kembali agar bersedia di antar pulang. Sudah hampir maghrib. Tidak lupa mereka pun dipakaikan helm, punya anak-anak. Saya tahu rasanya sakit gigi, sedikit saja ada angin menembus lubang, sudah dapat membuat sakit lagi.

Rumahnya luas bercat putih, berpagar tinggi berlapis fiber glass. Seutas rantai sebesar lengan membelit pintu pagar. Saya klakson tiga kali. Pagar masih tertutup. Kunci kontak saya cabut. Adi dan Ade membuka sendiri pagar rumahnya. Mereka pamit. Saya masih menunggu. Ayah dan ibu Adi belum pulang. Lalu saya mendengar suara perempuan paruh baya yang menjadi pengasuhnya berteriak lantang:
“Bagus, semakin hari kalian semakin nakal saja, keluyuran setiap hari. Mau jadi apa kalian? Mau jadi anak jalanan? Awas, nanti bilangin Papa!”
Senyap.

Saya menarik napas panjang. Saya klakson sekali, lalu berputar arah kembali menuju rumah dengan hati terkoyak meninggalkan anak-anak yang membunuh sepi harinya bersama saya.

2 thoughts on “LIMASKEETERS

  1. penasaran mas pengen ketemu lima pasukanmu..
    pasukanku dulu 8 orang,.. dari jalanan semua.. kini tinggal 2
    6 nya pindah sekarang… hehehe
    anak tetap sama ya di mana-mana..bedanya ama kita imajinasi kali..
    hehehe asik saya baca postingan ini, tak sabar nunggu berita dari mujib apa lagi

  2. Akibat ke egoisan orang tua. Anak2 jadi terlantar….
    Beruntung pemilik blog ini adalah istri ane yang sholiha….
    Makasi mi…
    Insya Allah… Di surga nanti, anak2 ini akan menjadi kafarat bg ummi…

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s