FAJAR

Setengah enam pagi. Anak-anak masih lelap dalam tidurnya. Udara terasa dingin menusuk setelah semalaman diguyur hujan. Jarak pandang menjadi lebih pendek tertutup kabut yang menebal. Hembusan nafas membentuk awan kecil mengurangi beku di jemari tangan.

Di sebelah kanan, terdapat kolam ikan yang beberapa waktu lalu sempat kerontang. Kini penuh bahkan hampir meluap airnya. Tidak ada lagi pemandangan seekor kucing bermalasan di dasar kolam. Tentu saja, kucing hewan anti air, kecuali harimau lho, ia tidak masuk hitungan. Para kecebong bergembira ria di dalamnya. Mengalahkan para ikan yang langsung menyelam mendengar langkah kaki saya.

Di sebelah kiri terdapat saung bambu beratapkan ijuk karya Abah, ayah saya. Kami sering bercengkerama di sini, termasuk dengan Si Kuti yang sudah berpindah alam. Apabila siang atau malam datang, sering menjadi tempat singgah pedagang keliling atau petugas keamanan untuk meluruskan kaki atau memejamkan mata sejenak.

Di sebelah kiri dan kanan jalan, pohon filicium berbaris rapi tampak seperti gapura menyambut para penghuni yang terdiri dari enam rumah saja. Pada musim yang lembab dan sedikit hangat, sahabat harus lebih berhati-hati dengan keberadaan ulat bulu yang hidup berkoloni di balik dedaunan atau di cekungan batangnya. Ulatnya kecil keperakan hampir seperti ulat albino dengan seta (bulu ulat) yang pendek namun lebat. Karena ringannya, mereka sangat mudah tertiup angin dan bila terkena kulit menimbulkan gatal luar biasa seperti lazimnya alergi ulat pada umumnya. Ulat-ulat ini sering juga terjun bebas meliuk-liuk dengan sulur terurai persis tarzan saja. Yang ini, ulat tarzan. Xixi. Pernah ketika anak-anak Pramuka saya peringatkan tentang keberadaan ulat ini, kontan mereka bubar jalan sambil menjerit, aaaaaaa…. Ketika itu wabah ulat bulu memang sedang melanda Jawa Timur.

Tepat di belakang di antara filicium, terdapat beberapa pohon pisang yang mulai berbuah. Dengan jumlah yang cukup banyak, satu tandan pisang sudah memadai untuk enam keluarga ditambah dengan hidangan untuk para singgaher.

Di penghujung jalan ini, terdapat sawah yang masih dibajak dengan kerbau. Pemandangan yang sudah langka, mungkin di kota seperti ini yang pasti dapat ditemui hanya di kebun binatang. Di sebelah kanannya, jalan tol Cipularang terlihat jelas. Sesekali dentuman keras terdengar dari ban kendaraan yang pecah. Bahkan raungan sirine polisi nyata benar bahwa terjadi kecelakaan beruntun yang membuat macet kendaraan di belakangnya. Atau seorang anak SD yang tewas tersambar mobil yang melaju kencang karena enggan naik jembatan penyeberangan. Tragis.

Di sini, banyak drama tercipta. Sisi lain dari daerah sepi yang sering membuat saya miris. Ya, dari atas motornya, sebagian besar abg berseragam abu, berkasih-kasihan, benar-benar melupakan keadaan sekitar, dunia hanya milik berdua, yang lain hantu. Xixi. Maaf, jika saya melewati pemandangan tersebut, dengan keras saya Tiiiiii…..nnn (tanpa ju lho!). Jika sedang memakai sepeda, bunyi nyaring keluar, kring kring kring. Lumayan iklan lewat.

Saya memahami debaran hati yang kalian rasakan saat bersama dengan orang yang dicintai. Sungguh saya mengkhawatirkan kalian adik-adikku, seandainya tidak berhati-hati dalam mengendalikan diri, akan berakhir di ruang sepi. Yang akan menimbulkan penyesalan atau bahkan menjadi addict, terjerumus lebih dalam.

Tolong hargai hak jalan, banyak anak-anak lalu lalang, tidak patut bagi mereka menyaksikan ‘edukasi’ secara langsung. Barangkali saya termasuk orang tua yang kolot, bukan berarti menganggapnya sesuatu yang tabu, hanya insya Allah nanti jika waktunya sudah tepat.

Kabut sudah menipis seiring dengan terbitnya matahari di ufuk timur.

6 thoughts on “FAJAR

  1. Bukan suatu yang kolot ketika kita melihat hal yang tidak patut untuk di pandang.dari laki-laki yang sholeh akan lahir ayah-ayah yang hebat. Dan pantaslah kalau nanti di panggil ayah… ayah. Di waktu pagi anak gadis kita dengan senang mengatakan dan mengulurkan secangkir kopi manis. Ayah ini kopi manis buat Ayah

    • Karena ketika sesuatu yang keliru menjadi seolah wajar, maka mereka yang berusaha menggigit dengan geraham, menentang arus, akan dianggap kolot, ga gaul, ndeso, dlsb. Tetapi di sini letaknya perjuangan memegang teguh suatu prinsip agar berada pada koridorNYA.

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s