UPPERCUT

“Banyak orang lebih suka membaca, karena ia terlalu malas untuk berpikir.” (G. C. Lichtenberg)

Sebuah kutipan yang saya temukan pada Intisari lawas Edisi 6 tahun yang lalu. Beliau adalah seorang scientist dan penulis dari Jerman di mana namanya digunakan sebagai salah satu nama kawah di bulan. Keterangan selanjutnya yang lebih mendetail silakan sahabat temukan di Wikipedia bahasa Inggris.

Kembali kepada kutipan beliau. Menulis tidak semudah membaca. Menulis memerlukan kemampuan lebih, penguasaan materi juga kemampuan menyampaikan gagasan menjadi sebuah ide menarik agar pesan tersirat ataupun tersurat dapat ditangkap oleh pembaca.
Malas sie tidak, mungkin kurang rajin atau ahaha baiklah tidak usah membela diri, pikiran terkadang buntu, belum bisa menulis luas (panjang dan lebar).
Saya salut kepada mereka (penulis) yang sanggup menulis secara runut, teratur dan sangat mengasyikkan sehingga menjadi karya apik yang tidak monoton dan penuh kejutan.

Lalu apakah saya keliru jika selama ini hanya sebagai pembaca? Membaca mengolah pikir, membawa saya ke dunia lain yang belum tersentuh secara nyata. Membuat saya belajar banyak tentang kehidupan, alam semesta dan isinya.
Tentu berbeda apabila hanya berdiam diri, berimajinasi bebas dalam lamunan tanpa arah yang berujung pada kesia-siaan semata.

Membaca bagi saya sebuah ekstasi agar mampu mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik.

10 thoughts on “UPPERCUT

  1. menulis memang ada tantangan tersendiri, bu.
    bagaimana agar tulisan kita mudah dipahami, tidak menyinggung pihak lain.
    tapi bagi pemula kayak saya ini, mood juga pengaruh sih…

  2. wah terima kasih atas kunjungannya, setuju pak bahwa membaca adalah untuk mengembangkan peribadi yan lebih baik. dan menulis adalah kemampuan terakhir. he he semoga ngeblokku kali ini bukan sebuah pembuktian terakhir bahwa aku bisa.tetapi sebuah keterampilan yang perlu diolah terus…dan terus.

  3. intisari masih ada ya??
    hhihihihi buku langganan nya bapak..
    sejak SD dah baca … seneng yang kolom fisika itu sama sastra nya… tertarik pertama gara ada ulasan bahasa tentang evolusi dan revolusi jika di tambah awalan ber…
    pada revolusi atau evolusi
    berevolusi? sama kan… hahaha

    But. saya lebih suka membaca ketimbang nulis…

    • Intisari masih terbit. Kalau edisi lama tinggal hunting di Toko Lo atau ngubek Palasari, beres.
      Wah, bacaan kecil saya terbatas di Bobo dengan Pak Janggutnya, Lima Sekawan by Enid Blyton atau Lupus dengan sandal jepitnya. Heheh.
      Bacaan berat ga dilirik, ga muat bro. Haha.
      Bahasa Indonesia, J. S. Badudu pakarnya, keren.
      Sebagai penulis produktif, sepertinya kualitas dan kuantitas berbanding lurus deh, diarynya deras bro, salut.

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s