JIDDAH

Sepuluh tahun yang lalu, ‘adzan subuh baru saja berkumandang. Saya menemukan Koran Pikiran Rakyat diselipkan di pagar bambu di samping rumah. Pandangan langsung tertuju pada sebuah tulisan kecil bertuliskan Ni Nyoman PA termasuk di antara calon mahasiswa yang berhasil lolos dalam SMPTN di Andalas, Padang. Segera saya melangkahkan kaki ke sebuah wartel terpagi, mengabarkan kabar bahagia, bahwa putri tercinta ibu akan menimba ilmu di Pulau Sumatera.

Salahsatu upaya saya Bu, untuk memudahkan langkah dan restumu agar dapat menyatukan kami dalam ikatan pernikahan dengan Surya, putra Ibu. Memang tidak besar, namun saya dapat mendengar aura bahagia dari suara Ibu. Dan itulah saat pertama Ibu berkata,”Terimakasih Nak sayang……”

Satu tahun kemudian, dalam deraimu, beberapa saat setelah ijab kabul, Ibu berkata pada saya, “Lia, titip Igun Nak……” Resmilah saya menjadi anakmu. Menjadi bagian dari keluarga kecil ibu. Setahun kemudian pula, lahirlah cucu Ibu pertama, cucu yang sangat ibu cinta dan juga mencintaimu. Jakarta-batam menjadi jadwal rutin untuk menjumpai kami di Pulau Jawa……

Ibu pula, tempat saya mengadu tentang bagaimana menghadapi sulitnya memahami sikap suami, yang tentu saja lebih dalam ibu ketahui. “Sabar ya Lia….,” jawab Ibu. Kita memang dekat Bu. Kita sering berbagi dalam tangis dan tawa atas perilaku Kaum Adam yang terkadang sulit untuk ditebak.

Ibu yang mengajari saya membuat rendang, sambal ijo dan teri yang menjadi kesukaan Surya, putramu, suamiku. Xixi, saya salah ambil daun jeruk purut, yang saya ambil, daun jeruk manis besar. Lha tidak salah kan Bu….Sama-sama daun jeruk. Hehe. Ada rencana kita yang belum terlaksana Bu… Ya, karena kita suka memasak, jika kita kelak berkumpul, akan membuat warung makan kecil sama-sama, pasti seru dan menyenangkan.

Allah telah berkehendak memanggilMu terlebih dahulu sebelum semua terwujud. Tidak mengapa Bu, saya ikhlas melepas Ibu pergi. Saya sayang Ibu. Sudah tiba masa akhir mendampingi kami menjalani kerasnya hidup.

Silaturahim. Ini satu kata yang sering Ibu ingatkan untuk terus kami jaga. Ini terbukti, alhamdulillah, meskipun demikian besar biaya yang harus dikeluarkan selama Ibu di Rumah Sakit, dana bantuan dan do’a dari kerabat tidak berhenti mengalir untuk Ibu.

Maafkan saya Bu, tidak bisa mengantar Ibu menuju ke pusara terakhir. Luaskan Rabb….. Terangilah dengan janjiMu atas setiap huruf dari Al Qur’an yang Ibu baca…. Maafkan Ibu atas setiap khilafnya….. Aamiin

Foto ini dikirimkan setahun lalu,”Ibu cantik ya Lia?” Iya, Ibu memang cantik, secantik hatimu. Dan indah di mata kami, anak-anakmu…… Kami sayang Ibu. Insya Allah, do’a kami menemani ibu hingga tiba saat kita berkumpul kembali di akhirat kelak, sepenuh asa di tempat terindah di jannahNya. Aamiin.

5 thoughts on “JIDDAH

  1. Jidah adalah kekuatan biah yang diberikan Allah sblum ummi dan anak2… Yaaa Allah… Jadikanlah kepedihan hati ini sbagai kafarat bagi kami, cinta kami ke jidah sbagai bukti kami untuk menggapai ridhoMU… Terimalah Jidah kami d jannahMU yang terindah… AMIIIN….

Pendapat Sahabat :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s