UPPERCUT

“Banyak orang lebih suka membaca, karena ia terlalu malas untuk berpikir.” (G. C. Lichtenberg)

Sebuah kutipan yang saya temukan pada Intisari lawas Edisi 6 tahun yang lalu. Beliau adalah seorang scientist dan penulis dari Jerman di mana namanya digunakan sebagai salah satu nama kawah di bulan. Keterangan selanjutnya yang lebih mendetail silakan sahabat temukan di Wikipedia bahasa Inggris. Baca lebih lanjut

Iklan

Rambo manakah yang Anda pilih?

Di rumah, saya memelihara seekor ayam kate yang diberi nama Rambo. (Numpang tenar) 😀
Ini dia Rambo saya yang sedang narsis.

Pagi setelah pintu kandang dibuka, Rambo lalu berkokok beberapa kali, kemudian berlari melewati kolong pagar tetangga untuk menemui rekan sejawat dan meninggalkan ‘jejak’ di sana.

Sore menjelang maghrib, atau bila langit mendung, Rambo masuk ke dalam rumah dan hupp, naik ke atas lemari kecil. Apabila lama dibiarkan, teriakan putri kecil saya akan membahana, Ummmiii….. Rambooo….. Ups, terlambat! Rambo protes, segera ia memberi tanda keayaman. Aroma khas pun memenuhi ruangan….. Hehehe…..

Berbicara tentang Rambo tentu tidak lepas dari tokoh Rambo yang diperankan oleh Sylvester Stallone. Sosok veteran perang yang mahir, bershiluet bak binaragawan. Tokoh fiktif yang banyak diidolakan berbagai kalangan sebagai pria sejati? Bapaknya anak-anak bilang, testosteron banget. 😀 Sekuel filmnya hampir selalu sukses. (Gambar dari Wikipedia)

Stallone Rambo

Lho apa hubungannya antara Rambo Si Ayam dengan Rambo Sang pahlawan perang?
Hmmm, kita terkadang sering melihat ‘rumput tetangga’ yang sangat terkenal itu. Ohow indah nian sehingga mengabaikan yang dimiliki yang harus dirawat, dijaga dan dibenahi, juga disyukuri.
Kita lebih sering berkutat bahkan berdebat dengan sesuatu yang fiktif dan imajiner yang mungkin saja kurang tepat atau kurang bermanfaat untuk merasuk jauh ke dalam ranah pemikiran. Tetapi ya sah-sah saja, toh hidup disodorkan dengan berbagai pilihan yang diikuti dengan sebuah konsekuensi.

Jadi, Rambo yang manakah?

JIDDAH

Sepuluh tahun yang lalu, ‘adzan subuh baru saja berkumandang. Saya menemukan Koran Pikiran Rakyat diselipkan di pagar bambu di samping rumah. Pandangan langsung tertuju pada sebuah tulisan kecil bertuliskan Ni Nyoman PA termasuk di antara calon mahasiswa yang berhasil lolos dalam SMPTN di Andalas, Padang. Segera saya melangkahkan kaki ke sebuah wartel terpagi, mengabarkan kabar bahagia, bahwa putri tercinta ibu akan menimba ilmu di Pulau Sumatera.

Salahsatu upaya saya Bu, untuk memudahkan langkah dan restumu agar dapat menyatukan kami dalam ikatan pernikahan dengan Surya, putra Ibu. Memang tidak besar, namun saya dapat mendengar aura bahagia dari suara Ibu. Dan itulah saat pertama Ibu berkata,”Terimakasih Nak sayang……”

Satu tahun kemudian, dalam deraimu, beberapa saat setelah ijab kabul, Ibu berkata pada saya, “Lia, titip Igun Nak……” Resmilah saya menjadi anakmu. Menjadi bagian dari keluarga kecil ibu. Setahun kemudian pula, lahirlah cucu Ibu pertama, cucu yang sangat ibu cinta dan juga mencintaimu. Jakarta-batam menjadi jadwal rutin untuk menjumpai kami di Pulau Jawa……

Ibu pula, tempat saya mengadu tentang bagaimana menghadapi sulitnya memahami sikap suami, yang tentu saja lebih dalam ibu ketahui. “Sabar ya Lia….,” jawab Ibu. Kita memang dekat Bu. Kita sering berbagi dalam tangis dan tawa atas perilaku Kaum Adam yang terkadang sulit untuk ditebak.

Ibu yang mengajari saya membuat rendang, sambal ijo dan teri yang menjadi kesukaan Surya, putramu, suamiku. Xixi, saya salah ambil daun jeruk purut, yang saya ambil, daun jeruk manis besar. Lha tidak salah kan Bu….Sama-sama daun jeruk. Hehe. Ada rencana kita yang belum terlaksana Bu… Ya, karena kita suka memasak, jika kita kelak berkumpul, akan membuat warung makan kecil sama-sama, pasti seru dan menyenangkan.

Allah telah berkehendak memanggilMu terlebih dahulu sebelum semua terwujud. Tidak mengapa Bu, saya ikhlas melepas Ibu pergi. Saya sayang Ibu. Sudah tiba masa akhir mendampingi kami menjalani kerasnya hidup.

Silaturahim. Ini satu kata yang sering Ibu ingatkan untuk terus kami jaga. Ini terbukti, alhamdulillah, meskipun demikian besar biaya yang harus dikeluarkan selama Ibu di Rumah Sakit, dana bantuan dan do’a dari kerabat tidak berhenti mengalir untuk Ibu.

Maafkan saya Bu, tidak bisa mengantar Ibu menuju ke pusara terakhir. Luaskan Rabb….. Terangilah dengan janjiMu atas setiap huruf dari Al Qur’an yang Ibu baca…. Maafkan Ibu atas setiap khilafnya….. Aamiin

Foto ini dikirimkan setahun lalu,”Ibu cantik ya Lia?” Iya, Ibu memang cantik, secantik hatimu. Dan indah di mata kami, anak-anakmu…… Kami sayang Ibu. Insya Allah, do’a kami menemani ibu hingga tiba saat kita berkumpul kembali di akhirat kelak, sepenuh asa di tempat terindah di jannahNya. Aamiin.

Perbincangan Kutilang dan Kenari

Siulan burung bersahutan. Hmm, rupanya mereka sedang bercengkerama dari tempat yang berbeda.
Burung yang satu dari pohon mangga, yang lainnya dari dalam sangkar yang tergantung di sebuah pagar yang tinggi.
Kira-kira begini artinya….  😀

Kutilang : “Sedang apa kamu di sana?”

Kenari     : “O, biasalah, bosan ada di sini.”

Kutilang : “Subhanallah, kuperhatikan parasmu elok nian.    Bulumu indah. Siapa namamu?

Kenari     : “Aku kenari, kalo kena, jangan lari. Ahahaha, kaya koruptor saja. Nehi dahhh! Panggil aku Ken. Kamu?”

Kutilang : “Aku kutilang. Just call me bro pren.”

Kenari     : “Wuiiih, manteb bro.”

Kutilang : “Betah kamu di sana Ken? Sangkarmu indah. Makanan ningrat banyak..

Kenari     : “Rumah sejatiku bukan di sini. Lama aku tidak terbang. Tidak bisa, sempit. Mereka memenjaraku hanya untuk mendengar dan menjual suaraku. Aku iri padamu…..”

Kutilang :  “Suaramu merdu, banyak dicari manusia, pakan tinggal makan……”
Kenari     : “Memang benar, tapi aku tidak mengharap itu semua. Kita bangsa burung diberiNYA    kemampuan untuk bertahan hidup. Berkelana di udara, berburu kroto, hinggap dari   pohon ke pohon. Bahkan bisa narsis foto dengan Ummi yang manis.” 😀

Kutilang : “Aku mengerti, sabar ya Ken. Semoga kamu bisa keluar dari sana.”
Kenari     : “Makasih bro. Kuharap manusia sadar. Rumah terbaikku adalah alam. Tempat aku bebas   mengepakkan sayap…..”

   Biarkan kami melanglang-buana menjelajahi semesta luas.

Senin, 5 Des 2011
Kabar terbaru tentang Ken, Si Burung Kenari, burung senilai tiga juta rupiah ini, tewas dimakan tikus di dalam sangkarnya. Ruangan sempit yang memenjaranya tanpa mampu menghindari predator. Si Kuti nasibnya lebih baik, ia burung merdeka. Si Ken, tumbuh dalam kungkungan kotak sempit, setidaknya ia kini pun telah merdeka menyusul Si Kuti, sahabatnya.