Bukan Satria Baja Hitam
Terletak di ujung jalan, sampailah saya di areal sawah yang tidak begitu luas, hanya beberapa petak saja. Karena dekat, setiap tahapan mulai dari penyemaian benih, membajak sawah, hingga memanen padi dapat saya saksikan dengan leluasa.
Menyaksikan kerbau di atas, mengusik masa kecil saya. Betapa dulu saya menginginkan menungganginya, ikut blusukan di lumpur sawah, beristirahat di bawah pohon kelapa. Persis pengggambaran anak penggembala di televisi dan koran. Dan belum terwujud hingga sekarang. Juga saya mesti berpikir berkali-kali, bisa-bisa saya didepak sang kerbau karena berpikir, “Eh, elu saingan gue!”
Menginginkan perubahan, menggapai tujuan, memerlukan proses yang harus dilalui dengan kesungguhan. Tidak serta merta terwujud dengan demikian mudahnya. Dunia film memang membuat segalanya tampak mudah. Asik mungkin ya jika terjadi nyata. Berubah! Jadilah Kitaro Minami menjadi seorang Ksatri Baja Hitam. Atau Doraemon dangan kantong ajaibnya bisa pergi ke mana saja. Kepraktisan dunia khayal tingkat tinggi.
Mereka yang terlalu berhati-hati sebelum mengambil satu langkah, akan menghabiskan seluruh hidupnya dalam satu langkah kaki. (Peribahasa China)






Mei 6, 2012 pada 12:09
didaerah sya juga msh suka melihat spt foto2 diatas…
btw sukses ya kontesnya
Mei 6, 2012 pada 17:30
Alhamdulillah masih dekat dengan lingkungan yang masih hijau.
Ini langkah perdana saya, belum pernah ikutan kontes seru-seruan sebelumnya.
Makasi banyak Bens.
Mei 6, 2012 pada 13:51
wah asyik membajak sawah pake kerbau…
nikmat teh,,,habis kerja panas panasan di bawah terik mentari terus istirahat sejenak di pematang sambil makan, nganggo angeun kentang laukna cekap lauk sepat asin lalabnya lenca sambelna sambel goang di cikuran…mantaplah…
leres teh di alam nyata gak ada yang ujug ujug,,, tetap saja ada proses dan tahapan…
Mei 6, 2012 pada 17:37
Waktos alit kabita ningal nu ngangon munding, ngemplad. Heheh… Komo deui tas ngawuluku, niis sabari tuang. Beu…
Ngajalankeun prosesna anu kedah seueur sabar. Ujug-ujug sim salabim kedah ngimpen heula. Heheh..
Mei 7, 2012 pada 17:08
jiga nu enakeun nya, Teh ?.. bari ngahaleuang sagala tah nu nuju ngawulukuna.. matak kelar pami emut hehe
leres pisa teh… anu karandapan seubeuh sedih seubeuh ceurik ceuk anu bohong teamah enggoning ngudag ka hayang…, maklum modal dengkul hehe
Mei 7, 2012 pada 23:16
Sumuhun Kang. Henteu ari dugi ka hokcay mah, keheula anan. Xixi…
Teu sawios modal dengkul oge. Anu penting mah halal, sumanget, sabar, tawakal. Disarengan ku syukur, supados emut kanu ni’mat. Ih da nyerat kieu teh simkuring kedah seueur ngeunteung. Teori mah gampil, prak na anu sesah mah.
Mei 9, 2012 pada 11:25
hehehe hokcay ( b. cina) sundana molohok bari ngacay, leres teu teh ??
muhun teh mung rada lambat we, pami di bandingkeun sareng anu ngagaduhan modal..
sapagodos, leres pisan prakna anu sesahmah..
Mei 9, 2012 pada 17:02
Leres Kang, anu versi Sunda. Ahahaha….
Mei 9, 2012 pada 20:29
siphlah….hehehe
Mei 7, 2012 pada 14:30
sawah di kota sudah susah ditemui ya teh
Mei 7, 2012 pada 23:19
Betul pisan Kang Budi. Pasered-sered dengan perumahan. Yang sedikit ini, lumayan menghijaukan pandangan.
Mei 7, 2012 pada 17:50
lihat fotonya jadi kangen kampung halaman mbak aku
semoga menang ya kontesnya
Mei 7, 2012 pada 23:32
Di dekat saya dan mungkin juga di kampung Mbak Ely di Indonesia, membajak sawah masih menggunakan kerbau.
Berbeda sekali dengan di Jerman ya, areal pertanian dan perkebunan sudah disentuh dengan teknologi modern. Adakah sawah di sana Mbak El?
Terimakasih supportnya. Aih saya jadi malu. Ini baru pertama kali ikut kontes2an. Ini juga karena hanya beberapa kalimat saja. Hihihi…
Belum pd ikut kontes menulis artikel panjang lebar.
Mei 10, 2012 pada 07:57
wah mbak, saya tingal di desa yang dikelilingi hektaran sawah, tiap hari itu bersepedanya ya muter muter sawah, orang baru keluar dr perumahan sudah disambut sawah .. luas sekali, cuma jarang lihat pak tani, kalaupun lihat ya cuma pas nanam biji dgn mesin raksasanya itu atau pas kalau bajak sawah dan panen, itupun biasanya cuma seorang doang di sawah yg begitu luasnya ynag banyak itu justru ratusan burung, dari merpati, camar, gagak, Starr, bangau yang selalu mengelilingi traktor di mana pak tani lagi bajak sawah, lumayan dapat gratis cacing dsb, ini yg aku sukai mbak, kadang aku iri lho pengen sekali kali naik traktor gede itu dan bajak sawah soalny adikelilingi ratusan aneka burung
Mei 10, 2012 pada 10:00
Wow, pasti nyaman sejauh mata memandang hijau semua. ^^
Saya kira karena di sana, makanan pokoknya roti dan kentang, jarang ditemukan sawah…
Tepat dugaan saya, di sana serba memakai teknologi. Jadi meminimalisir tenaga manusia, apalagi hewan…
Memang sangat jauh tingkat kemakmuran petani di sini dan di Jerman. Saya berharap, kesejahteraan para petani di Indonesia meningkat, sebanding dengan peluh yang telah mereka keluarkan.
Mei 8, 2012 pada 21:26
Enak ya Mbak tinggal di lingkungan seperti ini, adem, pemandangan terbuka dan selalu hijau. Aku juga dulu pengen naik kerbau, waktu kecil pernah ngerasain naik kerbau tetangga. Tapi cuman sesekalinya sebab saat meluncur turun aku terjatuh. Yang punya gak mau ribet, besok2 aku gak dikasih naik lagi hahaha..
Mei 9, 2012 pada 10:16
Alhamdulillah masih ada area hijau, jadi lebih adem.
Pengalaman pertamanya pasti seru banget. Yang punya kerbau tidak mengizinkan Mbak Vi naik lagi, disinyalir khawatir kena marah Bapaknya Mbak Evi. Hehehe…
Mei 9, 2012 pada 08:30
Dulu disekitar tempat tinggal sini juga sama halnya dengan gambaran diatas, masih terdapat bbrp petak sawah, tapi skrg sudah dikuasai besi berbeton
Mei 9, 2012 pada 10:21
Kebutuhan mendesak area persawahan berubah wujudnya Kang. Yang sedikit, yang tersisa ini, lumayan biar ga melulu beton.
Mei 10, 2012 pada 16:06
mengingatkan masa kecil saya mbak lia yang harus mau tidak mau membantu orang tua ke sawah.
Mei 10, 2012 pada 21:08
Pastinya memberi kesan yang mendalam ya Mbak Min…