COBRA
Tepat di depan rumah, terdapat tanah luas sekira satu hektar milik tetangga baik saya. Kini di lokasi ini telah berdiri sebuah masjid dan saung bambu yang menjadi gravatar Hijihawu. Lahan yang kosong digarap oleh Bi Empat dan suaminya.Tanah ini kemudian ditanami berbagai bahan tanaman kebun seperti pisang, ubi, sawi, cabe rawit, pepaya, dll. Selebihnya ada sebuah kolam kecil untuk budidaya ikan lele.
Kepik, nyamuk, ulat bulu tentu saja mereka menjadi penghuni setia tanah ini. Ternyata selain para serangga ini, terdapat juga reptil hitam keren, ular cobra sob!
Ular ini memiliki panjang sekitar 120 cm dengan diameter tubuhnya 4 cm. Sisik tubuh atasnya hitam mengilat, sedangkan bagian bawahnya putih berkilau seperti mutiara, cantik sekali. Bi Empat sempat dibuat kebat-kebit melihat ular ini sedang melingkar di bawah tangga gudang dengan kepalanya yang serupa sendok berdiri tegak.
Saya pernah melihatnya menjelang maghrib sepulang belanja. Ular ini dengan santainya melintasi jalan menuju pohon angsana. Waktu itu saya tengah di atas motor, kalau berjalan kaki, dapat dipastikan saya lari tunggang langgang. Takuuudd…
Karena ular ini sudah terlalu sering narsis di wilayah ini, khawatir membahayakan keselamatan warga, beberapa waktu yang lalu dipanggillah seorang kakek pawang ular. Beliau menyingkapkan bebatuan, mengamati lubang, juga menelusuri sisa sisik ular dari proses pergantian kulit. Tahu tengah dicari, ular ini ngumpet semakin dalam. Entah di sarang yang mana…. Pencarian tidak berhasil, padahal ular ini diburu bukan untuk dibunuh, melainkan dipindahkan ke tempat yang lebih kondusif dan aman untuknya dan juga untuk kami warga di sini.
Seperti sebuah perdebatan antara ayam dan telur ayam, siapakah yang lebih dulu ada di muka bumi ini. Demikian juga, siapa yang lebih dulu menghuni tanah ini? Kami atau cobra itu? Jadi, siapa mengganggu siapa?
Alam ini diciptakan dengan keseimbangan yang sempurna. Sedikit atau lebih saja pada sebuah sistem rantai makanan, akan mengusik keteraturannya, dapat membuat ledakan populasi yang timpang. Populasi manusia yang terus berkembang, berbanding lurus dengan kebutuhan akan tempat tinggal yang otomatis perlahan menggerus habitat hewan dan memaksa mereka untuk turun gunung. Maka tidak sedikit kasus manusia yang dimakan harimau, gajah yang mengamuk menghancurkan perkebunan dan perumahan warga… Siapa yang patut disalahkan? Kita, manusia atau para hewan itu?
Diperlukan langkah bijak untuk hal ini. Sesuatu yang ekstrem dan tanpa kendali akan merubah tatanan alam. Harus ada win win solution. Manusia damai, habitat hewan pun tidak terganggu. Punya solusi jitu kawan?
Siang menjelang dzuhur, saya dikejutkan dengan sebuah teriakan. Lebih tepatnya, peringatan, agar kami lebih berhati-hati ketika sedang berada di kebun dan sekitarnya, karena kehadiran ular -ular ini.
Lalu di bawah terik matahari, tampak oleh saya, sang cobra sudah terkulai di tengah jalan. Jika saja ada seorang Panji atau kakek pawang ular ketika sang cobra muncul, barangkali kisahnya akan lain… Mungkin ia tengah mengumpulkan dedaunan kering untuk pertumbuhan telur-telurnya di hutan… Bergembira bercengkerama dengan keluarganya yang lain di habitat terbaiknya… Inilah pertama kalinya saya menyentuh indah kulit cobra tanpa kaca pembatas. Tidak lama kemudian ular ini pun kaku. Perih sekali…
Di tanah ini, anak-anak saya, anak-anak TK dan SD hingga orang tua lanjut usia berolahraga, makan bersama, melakukan kegiatan Pramuka…. Kini berakhirlah sudah, sebilah kayu mengakhiri perburuan sang cobra mengejar sang katak…
Lalu bagaimana denganmu sobat, ketika seekor cobra ada di depanmu? Apakah diam mematung seolah kaki tertancap dalam ke perut bumi? Menguji nyalimu untuk menaklukan ular ini? Berlari menjauh? Atau membuatnya kaku?
Peraturan nomer satu, jangan panik! Ke dua, putuskan jawabanmu. Ke tiga, menuliskannya.



Januari 28, 2012 pada 00:26
walaupun sya laki2….tapi kalo udah menyebut ular (apalagi cobra…) bergidik rasanya….dulu aja waktu msh suka nanjak, sya paling ngga suka kalo ada teman nyebut2 ttg ular….
Januari 28, 2012 pada 16:30
Apalagi saya Bens, berani ngelus juga karena cobranya sudah sangat tidak berdaya. Duh, sedihnya saya melihat nasib ular tidak bersalah ini…
Januari 28, 2012 pada 06:16
Sebenarnya kita lah yg salah Mb Lia. Kitaa terus saja berkembang biak yg membutuhkan lahan tempat tinggal berbanding lurus.. itu memaksa makhlluk lain sprt Cobraa ini kehilangan tempat tinggal dan lahan utk cari makan. Amat bersimmpati dng nasib cobra itu Mbak
)
Januari 28, 2012 pada 16:39
Iya Mbak Vi, populasi terus bertambah, lahan terbatas, mungkin harus benar2 ada wilayah konservasi lingkungan yg dikelola serius, ga mempan suap ketebelece. Saya mah nggak ngerti tata ruang kota dsb. Harapannya sie stop pembangunan yg luas dg okupansi sejumput yg hanya dinikmati segelintir orang kaya saja, seperti mansion n lapangan golf. Sehingga pembukaan lahan juga dapat diminimalisir. Komen panjang saya jadi curhat bin gemes.
Januari 28, 2012 pada 07:20
Ajal…. Hanya Allah yang tau…
Kasian si Ular… Kalo bisa akrab sama sang ular kan asik bisa jadi teman, bisa pelihara ular d rumah, dijamin pencuri ga brani masuk….
Januari 28, 2012 pada 16:42
Pelihara cobra? Mungkin asik, adrenalin dipompa terus, ngeriii….
Januari 28, 2012 pada 10:07
seminggu kemarin saya dan para monyet sering kali menemukan/melihat ular sanca (phyton) dengan berbagai macam ukuran di hutan.
klo megang saya belum berani, tapi klo colek dikit sih oke saja. hehehe…
Januari 28, 2012 pada 16:47
Asiknya bisa kopdar setiap hari dengan hewan2 liar sob… Wuih perlu nyali besar jelajah hutan terus ya… Manteb.
Kalo sabun baru saya berani nyolek, perlu malah buat nyuci. Hehehe.
Januari 28, 2012 pada 12:50
kalau bertemu cobra saya akan menghindar,,uji nyali ngeri ah bisa cobra mematikan..membuatnyua kaku, tentu tidak tak punya hak untuk itu..
Januari 28, 2012 pada 16:50
Cobra menyerang jika merasa terganggu. Sepertinya menghindar memang cara yang paling aman.
Januari 28, 2012 pada 14:47
kalau bertemu dengan cobra, maka saya bertanya “Apakah anda termasuk ular tangga…?”, bila jawabannya “ya..”, maka tidurpun makin lelap
Januari 28, 2012 pada 16:51
Hahaha… Sepakat…
Januari 28, 2012 pada 15:45
bagaimanapun tak ada yg berhak membunuh hewan, aku paling takut sama ulat dan hewan melata lainnya, kalau ada di depan mataku maka akan kupanggil suamiku dan dia akan memindahkannya ke tempat lain, bukan dibunuh, mereka juga berhak hidup
suka foto fotonya, thanks sdh berbagi
Januari 28, 2012 pada 16:58
Saya juga Mbak El, apalagi berhadapan dg ular berbisa, ngeri. Memindahkannya perlu nyali luar biasa dan keterampilan khusus, ular-ular di sana pasti senang jika bertemu dg suami Mbak El.
Di Jerman mungkin satwa2 juga memiliki perlindungan hukum, sehingga tdk bisa dibunuh sembarangan ya?
Januari 28, 2012 pada 21:28
di sini sih nggak ada ular, paling ada mungkin di gunung gunung yg tinggi, itupun kali jarang ya, maklum negara dingin
bener, di sini satwa sangat dilindungi, ancamannya itu yg membuat orang takut melanggar, masuk penjara ! dan terus terang aku salut sama orang sini , patuh sekali sama hukum, soalnya nggak pandang bulu kalau salah ya masuk penjara, siapapun itu, jadi wajar kalau aku bisa lihat rusa liar, dan hewan hewan lainnya termasuk ratusan aneka unggas tiap hari di dekat rumahku sini, krn mereka nggak ada yg nganggu
Januari 29, 2012 pada 10:32
Itulah kerennya orang2 Jerman, teknologi sdh sangat canggih, tp kepedulian dan disiplin menjaga alam sekitarnya sangat tinggi. Semoga saja di Indonesia dpt mengikuti jejak yg positif ini.
Januari 29, 2012 pada 06:06
MASYALLOH…boro2 ular cobra, ada limus sakeureut di rumah aja takutnya minta ampun! btw..kasian juga ya cobra itu? habitatnya udh makin sempit krn manusia..
Januari 29, 2012 pada 10:44
Kalo menghadapi cobra mah, saya juga ngeper. Pami limus sakeureut, cekap purulukan uyah dugi merengkel, pindahin ke tempat lain, sami wae saya juga geli. Heheh…
Februari 6, 2012 pada 05:50
Bagaimana pun ular juga berhak hidup di habitatnya, apa pun jenisnya. Kalau melihat ular berbisa melintas, jangan panik. Tenang dan segera ambil garam sebarkan ke tempat ular berada. Ular kobra akan lari menjauh.
Salah satu tip dari Pak FX Soetono, pawang ular berbisa dari Semarang, jika menghadapi ular berbisa, sekali lagi tenang. Jika ada yang digigit, segera pangkas batang anak pisang. Bekas pangkasannya lekatkan pada bekas gigitan. Bisa ular berbisa akan tersedot dengan cepat masuk ke batang pangkasan anak pisang. Setelah itu, lakukan pertolongan ke medis untuk disuntik anti bisa. Salam…
Februari 6, 2012 pada 08:11
Di sekitar saya memang masih banyak ular berbisa, salah satunya jenis cobra di atas. Tidak panik memang sangat penting. Nahh, memanfaatkan getah pisang ini yang saya belum tahu. Terima kasih banyak nie tipsnya. Sangat bermanfaat.
Salam kembali. Terima kasih kunjungannya..
Maret 11, 2012 pada 18:15
Ketika saya kecil, pangkasan batang anak pisang atau pelepah pisang sering saya pergunakan untuk menyembuhkan luka karena kena benda tajam. Biasanya akan cepat mengering. Nah.. kalo untuk menyerap bisa baru denger sekarang… tapi makasih infonya…
salam kenal dan salam ngeblog aja ya..
Blog hijihawu keren ya..
Maret 11, 2012 pada 19:13
Saya dapat tip ini langsung dari pawang ular F.X Sutono dari Semarang yang memberikan kiat mengatasi kondisi darurat kena gigitan ular berbisa. Getah anak pisang pangkasannya biasanya berlendir. Nah lendir getah itu yang ditempelkan untuk menyedot habis bisa ular yang masuk ke tubuh.
Maret 15, 2012 pada 00:39
Wah, senang saya dapat tambahan info dari Kang Dede.
Jadi selain untuk menyerap bisa ular seperti yang diceritakan Mbak Arum, getah batang pisang dapat digunakan untuk menyembuhkan luka kena benda tajam.
Sangat bermanfaat.
Terima kasih atas hadirnya.
Februari 7, 2012 pada 19:33
kalau 1 vs 1 seh lari.
kalau ada teman, paling cari pentungan. buat ngebukin itu ular
Februari 7, 2012 pada 22:15
Kemungkinan besar saya juga lari menjauh saja. Gebukin ularnya, haduh, ga tega saya…
Maret 7, 2012 pada 05:44
harus hati-hati nih kalau ada kebun dekat rumah
Maret 7, 2012 pada 07:36
Benar Mas. Kehati-hatian sangat diperlukan di mana pun kita berada. Terima kasih.