Sampah di Sekitar Kita

Menjadi problematika panjang di setiap daerah akan sulitnya menangani dan mengolah sampah rumah tangga dan industri yang kian menggunung. Wacana alot tentang menentukan Tempat Pembuangan Sampah Akhir yang banyak ditentang penduduk setempat yang akan mendapat ‘getahnya’. Dapat dimaklumi, mengingat dampak ‘wangi’ dan serbuan serangga yang menyertainya.

Meluangkan waktu sejenak di perkotaan di Indonesia di mana tingkat kesadaran dan kedisiplinan akan kebersihan masih rendah, sahabat akan dengan mudahnya menemukan sampah yang teronggok atau berserakan di tempat umum.

Sebenarnya slogan sejak SD, Kebersihan Pangkal Kesehatan dan Buanglah Sampah Pada Tempatnya sudah sangat dikenal dan diketahui masyarakat. Tetapi mengapa masih saja kesadaran akan hal ini belum juga menjadi pola hidup yang membudaya? Apakah berbanding lurus dengan tingkat pendidikan yang masih rendah? Atau memang kepedulian itu yang belum terbentuk? Iklan Layanan Masyarakat yang kurang gencar? Atau terlalu lemahnya sistem hukum bagi mereka perusak lingkungan? Entahlah kawan….

Polemik panjang… Sekarang begini saja, apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi masalah sampah ini?
Dimulai dengan hal sederhana. Setiap hari, sampah rumah tangga yang kita sumbangkan cukup banyak. Sampah basah dari olahan dapur dan sampah kering dari kemasan plastik, besi, dsb. Selama ini barangkali kita menyatukan pembuangan kedua jenis sampah tersebut. Kita dapat mengurangi volume sampah seandainya kita memilah dan memilih jenis sampah organik dan non organik ke dalam dua tempat sampah yang berbeda. Tidak harus mewah dengan tempat sampah khusus seperti yang tersedia di perkotaan. Cukup kita sediakan dua keranjang kecil atau kantung plastik untuk memisahkannya.

Sampah organik dapat kita buang di kebun setelah sebelumnya kita cacah terlebih dahulu menjadi potongan kecil agar lebih cepat terurai oleh alam. Selanjutnya dapat kita jadikan kompos untuk penyubur tanaman.

Sampah kering kita pilih kembali antara yang dapat didaur ulang atau tidak. Saya kagum dengan bank sampah yang ada di Yogyakarta. Di Bandung belum saya dengar gaungnya. Mengapa bukan saya yang memulainya ya? Haduh, takut jadi nato deh. Di sini, memang hampir setiap hari ada Mang Rongsok yang singgah di saung. Jadi tidak sulit bagi saya memberikan sedikit sampah yang dapat didaur ulang.

Menjadi pengumpul barang rongsokan, petugas kebersihan, sebuah profesi yang kerap dipandang sebelah mata, profesi yang hanya segelintir saja yang mau melakukannya, bergelut dengan sampah. Bagi saya, pekerjaan tersebut adalah mulia dan halal daripada berdasi dan hidup mewah dari hasil korupsi. Mereka adalah para pahlawan yang berandil besar menjaga kelestarian lingkungan.

Memilah dan memilih sampah mungkin terlihat dan terasa merepotkan. Sebenarnya tidak, pembiasaan akan membuat kita ringan melakukannya. Semoga dengan timbulnya kesadaran pribadi dapat menjadi kesadaran kolektif, bersama-sama kita upayakan lebih bersahabat dengan alam dan menjadikannya lebih hijau dan nyaman.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Merusak alam mudah sekali dilakukan, sedangkan rehabilitasi, memerlukan proses panjang agar kembali seperti semula. Sebelum kerusakan bertambah parah, mari kita jaga bumi ini lestari.

Sudahkah sahabat memulainya? Let’s go green!

Tikus Menggugat


Hai! Aku Rattus rattus, bangsa penge-rat, biar simple panggil aku Rat aja ya. Hmmm, sebenarnya aku makhluk imut, ngganteng, nggemesin. Kumis tipisku persis Zoro lho! Anehnya, segitu udah dijelasin aku tuh good looking, banyak manusia, terutama perempuan jerit-jerit melihatku. Kesengsem kali yaaa…. Hihihi….

Rumahku imut persis akyu, di G0A, lubang di dalam tanah. Hmm, ada yang salah nih. Tepatnya di goa, kecil toh. Aku bebas merdeka. Nyempil di tembok, di kardus sepatu, di lemari. Pokoknya luaasss di mana aja kusuka…..

Seperti umumnya bangsaku, aku kalonger, hewan nocturnal, aktif di malam hari aja. Saat manusia tertidur, itulah waktunya aku beraksi. Mengendap berburu makanan sisa. Kalau apes, apapun bisa digilas perutku. Di rumah ga sukses, terpaksa ke luar dari goaku. Yuhuu, thanks berat buat Ummi. Rajin amat blio buangin sampah organik di kebun. Ya udah, ini rezeqiku. Sebenarnya sie bagiku ini seperti simbiosis mutualisma. Sampah berkurang, aku kwenyang . Fifty-fifty laa… Walah, hujan. Waktunya masuk istana. Ga seperti tikus got, aku anti air!

Huahhh… Sudah pagi lagi. Rumah ramai banget sie. Baru aja aku terlelap, suara kaleng klontang-klontang. Puyeng dahh… Kalo udah kaya gini, aku jadi ingat Jerry, sobatku. Ia tikus makmur, selebritikus. Rumahnya adem di dalam tembok. Sesekali ia masih dapat makan keju atau roti yang kelupaan ditaro manusia. Salah sendiri, ini naluri kami buat survive, nggak kami bukan kleptomania, kami ini apa yaaa… Kami iniii keren aja gituh. Xixi…

Benar-benar deh berisiknya. Ada apaan sie? Keluar sarang ahh… Selinap-selinapp… Hupp, gotta! Berhasil ngumpet ke dalam kursi yang kainnya bolong. Bisa ngintip dah.
Ooo… Jadi ini biang keroknya. Penghuni rumah lagi serius liatin tv yang lagi nayangin demo mahasiswa atas maraknya kasus korupsi yang ga kelar-kelar, melar melebar, gelar tikar, ngiler! Tidur mulu tuh!

Eh, tunggu. Mengapa mereka bikin replika kerabatku segede begono ya? Pake dibakar-bakar segala! Wuih, jelas tersinggung dong aku! Masa manusia menjadikanku simbol koruptor? Nggak banget deh! Ga level! Ok, kami memang suka ngumpet-ngumpet curi makanan. Tapi kami ga kemaruk! Mana muat perut kami? Marah besarrr! Ingat man, tidak ada sesuatu pun dalam penciptaanNYA yang sia-sia. Mungkin kami dianggap menjijikkan. Tapi coba kalian pikirkan! Hidup kami mengais, menggerogoti sampah yang membusuk. Apa jadinya bumi tanpa kami? Kami makhluk yang kuat meski berbagai buangan kotor melesak dalam perut kami!

Please deh man! Maaf aja ya, kami tidak seburuk para koruptor itu. Sudah kaya, serakah pula. Mengerikan. Kami sekedar menghentikan bunyi keroncongan saja. Kami…. Hiks hiks…. Speechless….

Duh, manusia-manusia. Kami ini jadi simbol yang buruk-buruk aja… Kupikir kalian juga mengidap KTT, Kegilaan Tingkat Tinggi. Pedih kami saat keluarga kami dibantai, dijadikan sate, baso, dendeng. Seolah makhluk ningrat raksasa si sapi mahal itu. Manipulasi saja hatimu. Pasti krenyes-krenyes menipu umat. Atau mungkin karena terlalu cinta pada dunia? Oooh…. Sungguh terlalu!

Lagi-lagi kami jadi kambing hitam! Tunggu dulu lagi! Mengapa akhir-akhir ini Si Ummi suka banget nulis kambing ya? Apakah ia peternak kambing yang gagal? Atau karena penggemar berat Si Shaun? Atau jangan-jangan… Ia kambing? Ahahaha… Mbeeeekkk…

Sudah ah, nimbrung ngeliat tv bikin senewen. Mendingan balik ke gua and….. Zzzzz…..

Mutiara Di Dalam Bis

Hal-hal yang diperlukan di Jakarta telah diselesaikan. Kami, saya dan suami seolah berlomba dengan rintik hujan, menyusuri rimba jalanan menuju rumah adik ipar di Cileungsi. Tidak terlalu lama kami menunggu hingga ‘adzan maghrib berkumandang. Alhamdulillah. Ternyata mega mendung tidak jadi memuntahkan airnya. Shalat sudah ditunaikan. Semangkuk mie ayam ni’mat terasa menghangatkan malam yang mulai dingin.

Keesokan pagi adalah tiba saat kembali. Menunggu hampir 2 jam, bis MGI jurusan Bandung telah datang. Lambaian dan salam dari adik ipar tersayang mengiringi bis yang mulai melaju.

Memang rezeqi saya mendapatkan tempat duduk di baris pertama di dekat pintu masuk. Tempat favorit. Di Cibubur, seorang Ibu duduk di samping saya. Saya tersenyum. Jalan tol ramai lancar. Bis hanya sanggup melaju 60 km/jam. Luar biasa. Dalam keadaan normal biasanya dapat ditempuh hingga 120 km/jam. Memang padat. Barangkali karena bersamaan dengan libur natal, tahun baru dan semester ganjil.

Ibu Tuti, demikian beliau memperkenalkan diri. Usianya 59 tahun. Masih terlihat cantik dan energik. Diawali saling bertanya daerah asal, dilanjutkan dengan berbagi resep masakan Padang yang beliau tanyakan. Saya memang suka memasak, lalu sering diberi inspirasi oleh almarhumah Jiddah, ibu mertua saya tercinta.

Obrolan terus mengalir. Saya menyimak. Beliau sukses sebagai pengelola Bimbingan Haji. Keempat anaknya telah berkeluarga dan tersebar di Jakarta dan Perancis. Kesempatan ini saya gunakan bertanya seluk beluk ibadah haji yang tidak saya ketahui. Saya ingin sampai di tanah suci. Beliau memberi semangat. Niatkan dengan kuat, Allah yang akan memberi jalan.

Bermula dari usaha kecil-kecilan. Pasang surut usaha datang silih berganti. Satu hal, jangan menyerah, tetaplah berdiri tegak. Dengan asa yang menjadi semangat, untuk pendidikan dan kesejahteraan anak.

Waktu bergulir, usaha membuahkan hasil. Memang tidak terjadi dalam satu malam, perlu proses panjang. Anak-anak mendapatkan pelajaran. Untuk meraih sesuatu perlu perjuangan. Jangan biarkan pemenuhan kebutuhan dengan begitu saja. Melatih hidup sederhana meski uang tersedia. Bukan untuk kikir, gunakanlah sewajarnya, kelebihannya adalah investasi.

Berbekal ilmu agama dan keahlian di suatu bidang. Keempat anaknya meraih sukses. Hormat dan penuh cinta kepada orang tuanya. Bahagianya….

Usia telah senja. Telah mapan secara financial. Sebuah nasehat indah disematkan :
“Berusahalah dengan kesungguhan, semangat, ingatlah anak-anak yang harus kita bekali dengan akhlak mulia dan ilmu yang cukup. Kebahagiaan setiap orang tua memiliki anak yang sehat, lurus dan cerdas. Tidak ada gunanya harta melimpah, pendidikan tinggi, tapi keliru dalam perilaku. Harus menjadi figur yang baik. Kebahagiaan itu saat kita dapat berbagi kepada sesama. Sehingga ketika nafas terakhir dihembuskan adalah saat sedang beribadah kepadaNYA.”
Ibu berdo’a untukmu…..

Derai tidak sanggup bertahan. Hanya amiin yang terucap. Kondektur telah berujar, Soekarno Hatta…. Soekarno Hatta…..
Bis berhenti. Saatnya berpisah. Saya genggam dan mengecup lembut tangan beliau. Diiringi salam, saya melanjutkan perjalanan untuk menjumpai anak-anak yang telah menanti di rumah.

Selamat Hari Ibu. Perjuangan dan cinta tulus untuk membesarkan kami semua, tidak terperi untuk melukiskan dan membalasnya. Maafkanlah kami atas hati-hatimu yang terluka.
“Yaa Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa orang tua kami. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil.” Aamiin.
Love you Mam.
Salam cinta dan hormat untuk seluruh Ibu di negeri ini.

Di Atas Cipularang

Keuntungan memesan tiket keberangkatan jauh sebelum hari H, kita dapat lebih leluasa memilih tempat duduk yang diinginkan. Jadilah saya duduk di samping Pak Sopir yang sedang bekerja. Mengendali mobil supaya baik jalannya. Hush! Ga ada tuk tik tak tik tuk. Kuda dilarang masuk tol. Eiitt, siapa bilang? Ada tuuu punyanya Mitsubishi. Hehe.

Di sini pandangan luas, kiri, kanan, depan, ok. Kaki bisa lurus di kabin. Kalau tidak malu kaki bisa naik. Sejak dulu saya memang mudah sekali tertidur di dalam kendaraan yang melaju. Anginnya itu lho, dikipas alam menina bobokan saya. Ehm. Nah seandainya duduk di kabin tengah atau belakang, dikhawatirkan ada yang menetes atau bahkan mengalir menganak sungai.
Hidiiih, mengerikan, nyungsep deh saya. Haha.

Tepat jam 07.30, Baraya travel membawa saya menuju Jakarta. Barangkali pamor Cipularang tidak seperti sekarang ini sebelum meninggalnya istri Saipul Jamil, Virginia.
Selama ini saya memang kurang memerhatikan keadaan jalan jika di perjalanan, karena hal yang saya sebutkan di atas. Kali ini saya dibuat penasaran. Begitu terkenalnya km 97. Jalannya memang sedikit menurun, tidak terlalu curam, kemudian menikung ke kiri, juga tidak terlalu tajam.
Saya tidak menampik bahwa dunia lain itu memang ada. Tetapi jangan serta merta ketika terjadi sebuah kecelakaan, selalu dikaitkan dengan peristiwa mistis. Mengambing hitamkan makhluk halus, jelas mereka bukan kambing tho? Lantas bertaburanlah bunga-bunga.

Sampai ada produser film merasa perlu mengomersilkan kisah ini. Menakut-nakuti rakyat, jauh lebih horor daripada filmnya sendiri.
Semoga saja, rakyat Indonesia juga lebih cerdas dan berhati-hati akan sebuah mitos, yang akan memberi sugesti negatif, yang dapat menjurus ke hal-hal yang berbau mistis.

Yang terutama bagi sahabat pengendara, mari berdo’a sebelum memulai perjalanan, memeriksa kendaraan apakah layak jalan, kondisi kesehatan dan suasana hati sopir pun harus dijaga, agar dapat membawa kendaraan dengan aman. Tentu saja dalam perjalanannya harus mengusung tertib berlalu lintas untuk keselamatan semua pihak.

Alhamdulillah di jalan tol aman terkendali. Begitu keluar pintu tol, sedikit mesem melihat sebuah mural, JANGAN PUCET MELIHAT JAKARTA MACET. Nyindir.

Sahabat memiliki kisah unik di jalan tol? Mari berbagi cerita. Salam.

RINAI

Rumah kecil. Saya suka tempat ini. Terdampar di antara rumah-rumah besar. Sejatinya lebih besar dari rumah-rumah itu. Karena hampir setiap hari para tetangga menitipkan kunci rumahnya. Yach, inilah resiko rumah pojok terakhir sebelum dunia luar. Hehehe. Di sini sepi. Jauh dari persaingan the berisikest knalpot yang memekakkan telinga. Yang lucu, suaranya saja yang turungtung, larinya ra ono. Kena tilang polisi baru nyaho! Ada-ada saja. Siulan burung menjadi nyanyian indah buat saya. Kutilang, pipit, kolibri… Ah, suara alam yang damai. Jangan sembarangan membunuh mereka bidikers! Tidakkah kalian lihat papan seng atau apapun lah namanya, Dilarang Mengganggu Burung di Kawasan ini. PP no sekian sekian. Eh, oh, sudah luntur bro. Yaa, pokoknya janganlah! Saya suka saat langit berwarna navy sebelum ia menjadi pekat. Keramaian di sini hanya terjadi di sekitar lampu jalan yang angkuh dikerumuni laron. Seringkali terlihat ular yang melintas dari bunga irish ke rerumputan di seberang jalannya. Apalagi beredarnya isu sering terlihat kuntilanak di rumah megah di ujung jalan. Semakin sunyi saja.

Sudah seharian Adi hadir di rumah kecil. Tadi ia berjalan kaki dari rumahnya ke sini. Maksud kedatangannya selain bermain, juga hendak mengambil sepeda yang ditinggalkannya kemaren. Ade tidak ikut. Denyutan di lubang giginya masih menyisakan trauma besar. Adi sudah gelisah menanti Papanya yang katanya akan menjemput belum datang juga. Demikian pula saya. Adik ipar saya dari Cileungsi hendak berkunjung. Tidak etis rasanya, tamu jauh datang, sedangkan saya pergi ke tempat yang seharusnya dilakukan orang tuanya sendiri.
Saya bilang, Adi, kalau tidak ada yang menjemput, Adi tidur dengan Mujib yaa. Wuaaahh, Adi gembira.
Akhirnya dengan ponsel Mujib, karena pulsa saya habis, dihubungilah ibunya Adi yang ternyata masih di jalan. Kira-kira setengah jam kemudian sampailah beliau di rumah kecil. Saya kira akan dijemput dengan Ford hitamnya. Ibu Adi datang dengan Vario lengkap dengan jas hujan jubah. Hebatnya, meski kuyup di balik busana besar, wajah anggun dan makmurnya tetap nampak! Wah waah. Beliau tidak mampir masuk karena hari juga sudah gelap. Adi masih makan, kemudian beliau bilang agar Adi sudah harus tiba di rumah jam 4 sore. Karena sudah beberapa hari ini guru privatnya tidak mendapati Adi dan Ade. Ooooo…. Tahu saya sekarang, jadi mereka tidak mau pulang karena menghindar, alias ngeles dari ngeles. Xixixi, anak cerdas. Akhirnya kedua sepeda Adi dan Ade masih menginap juga di rumah kecil. Menambah deretan motor dan sepeda yang penuh sesak di garasi.

Senin sepulang sekolah, Adi membawa anggota baru, Kemal. Rumahnya dekat dengan Adi. Dari sekolah jalan kaki agar sepeda bisa dibawa pulang. Mendung. Adi dan Kemal pulang. Revan diantar Pak Heri, sobat Abah. Deaz tetap di rumah. Seperti biasa, Deaz dan Mujib bermain Plants VS Zombies, belum bosan rupanya. Tidak berapa lama, Adi dan Kemal datang lagi. Ngos-ngosan. Ada apakah gerangan? O ow, rupanya kedua tas mereka tertinggal. Padahal rumah sudah kelihatan. Terpaksa kembali lagi ke rumah kecil dengan membawa oleh-oleh, celana berlumpur! Satu-satunya jalan memotong menuju rumah, hanya melalui jembatan penyeberangan di atas jalan tol Cipularang. Resikonya ya itu tadi, harus siap blusukan di pematang becek dan parit kecil. Dipinjamkan celana Mujib mereka segan. Jadi hanya dibilas sedikit lalu lanjut mengerumuni monitor berzombi. Hujan deras menahan mereka untuk langsung pulang. Hhhh, siap-siap kena semprot bibi lagi.

Anak-anak ini sudah mulai sering berkumpul di rumah kecil. Jujur saja, saya lebih menyukai mereka bermain di luar daripada berdiam di depan komputer. Memang mereka saya batasi hanya boleh memainkan game yang bersih dari kekerasan, pornografi dan pornoaksi. Dikhawatirkan walaupun di dunia hayal, akan membenamkan pola pikir bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan hanya melalui kekerasan. Dan ini bahaya. Sesekali saya ajak mereka gowes bareng ke sebuah taman bermain atau membeli penganan kecil. Sepertinya saya sudah harus memikirkan bagaimana mengalihkan dunia games dengan sesuatu yang lebih aktif juga kreatif. Eksplorasi alam! Ya, mungkin ini menjadi ide menarik agar mereka menaruh minat tentang sekitar mereka. Menyibak ilalang, berburu kepik yang ternyata tidak hanya merah berpolkadot hitam, mengumpulkan aneka bunga kecil, mengelompokkan berbagai daun. Ah, terlalu banyak yang belum disentuh.

Hujan sudah mereda. Adi, Kemal dan Deaz pamit. Tentu menempuh jalan berlumpur itu lagi. Bagi mereka dan juga saya kecil, ini mengasikkan dan seru.

Cuaca memang tidak menentu akhir-akhir ini. Cerah berawan. Kadang terik sangat. Keesokan harinya hujan seharian. Seperti malam ini. Tetesan hujan lembut terdengar. Gerimis mengundang, kata sebuah lagu. Apanya yang mengundang? Mengundang dingin yang jelas. Di luar memang gerimis, tetapi tidak segerimis menyaksikan Mujib menggigil dengan suhu badan yang meninggi.

LIMASKEETERS

Adalah Mujib anak saya, Revan, Deaz, Adi dan Ade. Mereka berlima kecuali Ade, duduk di bangku kelas 3 di salah satu SDIT di Bandung. Sedangkan Ade, adiknya Adi masih di kelas 1.

Revan, anak berkaca mata, tubuhnya tinggi dan gempal, kulitnya sedikit gelap. Tutur kata dan perilakunya halus dan sopan. Berbicara dengan sangat baik, mengalahkan saya, tertata dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Deaz, perawakannya sedang-sedang saja, berkulit sawo matang. Apabila tertawa, dua gigi seri atasnya lebih terlihat daripada gigi lainnya.

Adi, tubuhnya tidak terlalu kutilang dan berkulit putih. Sedangkan Ade, sang adik, memiliki tubuh lebih padat dan lebih gelap.

Kelima anak ini, rambutnya tajam, duri landak saya kecil menyebutnya kepada mereka dengan rambut cepak berdiri.
Saya senang dengan anak-anak ini, bahasa mereka bersih dari sebutan penghuni kebun binatang.

Dalam satu minggu, mereka bertemu di sekolah selama lima hari mulai dari jam 07.30 hingga jam 15.00. Kecuali Mujib, mereka pergi dan pulang sekolah menggunakan kendaraan jemputan. Sesekali Revan dijemput oleh ayahnya dengan mobil sedan. Sedangkan Mujib, saya jemput dengan bebek besi yang tidak bisa berenang atau sepeda. Meski butut, Si Pamer (Sepeda Merah) dengan kursi rotan bertengger di rangkanya, tempat duduk putri kecil saya kalau merengek minta ikut emaknya, berjasa banyak, hemat bos, xixi, boros di keringat saja. Heheh. Sedangkan kakaknya dibonceng di belakang. Kalau gowesan saya menyiput, Mujib membantu menyemangati saya biar mengayuh lebih cepat. Bukannya apa-apa, kalau lelet ia bisa melewatkan Marsuphilami, Si Huba-huba! Duhhh, gowes bertiga triple capeknya!

Beberapa hari belakangan ini Deaz enggan ikut jemputan. Ia lebih suka ikut dan main terlebih dahulu di rumah Mujib. Sudah jam 4, hari sudah mendung, Deaz tidak mau pulang. Dengan bujukan, akhirnya Deaz mau saya antar dengan kuda besi saya.
Tiba di rumahnya, sepi. Pagar masih tertutup rapat. Saya menanti di luar menunggu hingga Deaz masuk rumah. Ia tampak berkeliling mencari sesuatu. Akhirnya saya turun. Ternyata kunci yang biasa diletakkan ibunya di atas pot tidak ada! Saya menunggu, sambil menghubungi ponsel ibunya, tidak ada jawaban, mungkin sedang di jalan. Melihat Deaz bersama orang asing, anak-anak usia 5 tahunan menghentikan permainan karetnya, mengintip dari luar pagar, saya memang alien, orang asing, iya toh? Kemudian para tetangga mulai datang, ibu siapa, gurunya? Dari Deaz saya tahu bahwa ia tinggal hanya bersama kakaknya yang belum pulang sekolah dan ibunya saja. Sedangkan ayahnya sudah tidak serumah lagi. Saya pamit ketika ada ibu tetangga yang mengajak Deaz serta ke rumahnya sembari menunggu ibunya pulang bekerja.
Keesokan harinya Deaz ikut saya lagi, saya antar pula pulang ke rumahnya yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumah saya. Kali ini kakaknya sudah ada di rumah. Saya tenang. Di pertigaan saya berpapasan dengan motor ibunya, berbincang sebentar, ibunya berkata bahwa ia sudah mewanti Deaz agar tidak mampir ke rumah saya karena takut merepotkan. Saya bilang tidak apa-apa Bu. Saya menangkap sinar tersayat dari matanya yang berkaca-kaca, karena keadaanlah yang memaksanya meninggalkan Deaz sendiri.

Mengetahui Deaz main ke rumah, tidak lama berselang, Revan, Adi dan Ade datang bersepeda dengan baju kebangsaan, t-shirt dan celana bermuda. Petir sudah menggelegar, Revan pamit pulang lebih dulu. Adi dan Ade bertahan, nanti saja Mi jam 5 pulangnya. Hujan turun dengan derasnya. Setelah meni’mati roti yang saya sajikan Adi dan Mujib bermain Plants VS Zombies. Saya rebah, lelah. Tiba-tiba Ade menangis, masya Allah, ia sakit gigi. Ade meraung memegang pipinya. Gawat! Segera saya beri Praxion. Ade masih berderai, saya elus rambutnya, Mamaaa….. Hati saya pedih. Ade tertidur. Posisi bantal terlalu tinggi, ketika dibetulkan ia terbangun, kembali berujar, Mamaaa…. Tidak ada. Ade beringsut menghampiri merapatkan tubuhnya ke kakaknya. Obat sudah bereaksi. Saya bujuk kembali agar bersedia di antar pulang. Sudah hampir maghrib. Tidak lupa mereka pun dipakaikan helm, punya anak-anak. Saya tahu rasanya sakit gigi, sedikit saja ada angin menembus lubang, sudah dapat membuat sakit lagi.

Rumahnya luas bercat putih, berpagar tinggi berlapis fiber glass. Seutas rantai sebesar lengan membelit pintu pagar. Saya klakson tiga kali. Pagar masih tertutup. Kunci kontak saya cabut. Adi dan Ade membuka sendiri pagar rumahnya. Mereka pamit. Saya masih menunggu. Ayah dan ibu Adi belum pulang. Lalu saya mendengar suara perempuan paruh baya yang menjadi pengasuhnya berteriak lantang:
“Bagus, semakin hari kalian semakin nakal saja, keluyuran setiap hari. Mau jadi apa kalian? Mau jadi anak jalanan? Awas, nanti bilangin Papa!”
Senyap.

Saya menarik napas panjang. Saya klakson sekali, lalu berputar arah kembali menuju rumah dengan hati terkoyak meninggalkan anak-anak yang membunuh sepi harinya bersama saya.

FAJAR

Setengah enam pagi. Anak-anak masih lelap dalam tidurnya. Udara terasa dingin menusuk setelah semalaman diguyur hujan. Jarak pandang menjadi lebih pendek tertutup kabut yang menebal. Hembusan nafas membentuk awan kecil mengurangi beku di jemari tangan.

Di sebelah kanan, terdapat kolam ikan yang beberapa waktu lalu sempat kerontang. Kini penuh bahkan hampir meluap airnya. Tidak ada lagi pemandangan seekor kucing bermalasan di dasar kolam. Tentu saja, kucing hewan anti air, kecuali harimau lho, ia tidak masuk hitungan. Para kecebong bergembira ria di dalamnya. Mengalahkan para ikan yang langsung menyelam mendengar langkah kaki saya.

Di sebelah kiri terdapat saung bambu beratapkan ijuk karya Abah, ayah saya. Kami sering bercengkerama di sini, termasuk dengan Si Kuti yang sudah berpindah alam. Apabila siang atau malam datang, sering menjadi tempat singgah pedagang keliling atau petugas keamanan untuk meluruskan kaki atau memejamkan mata sejenak.

Di sebelah kiri dan kanan jalan, pohon filicium berbaris rapi tampak seperti gapura menyambut para penghuni yang terdiri dari enam rumah saja. Pada musim yang lembab dan sedikit hangat, sahabat harus lebih berhati-hati dengan keberadaan ulat bulu yang hidup berkoloni di balik dedaunan atau di cekungan batangnya. Ulatnya kecil keperakan hampir seperti ulat albino dengan seta (bulu ulat) yang pendek namun lebat. Karena ringannya, mereka sangat mudah tertiup angin dan bila terkena kulit menimbulkan gatal luar biasa seperti lazimnya alergi ulat pada umumnya. Ulat-ulat ini sering juga terjun bebas meliuk-liuk dengan sulur terurai persis tarzan saja. Yang ini, ulat tarzan. Xixi. Pernah ketika anak-anak Pramuka saya peringatkan tentang keberadaan ulat ini, kontan mereka bubar jalan sambil menjerit, aaaaaaa…. Ketika itu wabah ulat bulu memang sedang melanda Jawa Timur.

Tepat di belakang di antara filicium, terdapat beberapa pohon pisang yang mulai berbuah. Dengan jumlah yang cukup banyak, satu tandan pisang sudah memadai untuk enam keluarga ditambah dengan hidangan untuk para singgaher.

Di penghujung jalan ini, terdapat sawah yang masih dibajak dengan kerbau. Pemandangan yang sudah langka, mungkin di kota seperti ini yang pasti dapat ditemui hanya di kebun binatang. Di sebelah kanannya, jalan tol Cipularang terlihat jelas. Sesekali dentuman keras terdengar dari ban kendaraan yang pecah. Bahkan raungan sirine polisi nyata benar bahwa terjadi kecelakaan beruntun yang membuat macet kendaraan di belakangnya. Atau seorang anak SD yang tewas tersambar mobil yang melaju kencang karena enggan naik jembatan penyeberangan. Tragis.

Di sini, banyak drama tercipta. Sisi lain dari daerah sepi yang sering membuat saya miris. Ya, dari atas motornya, sebagian besar abg berseragam abu, berkasih-kasihan, benar-benar melupakan keadaan sekitar, dunia hanya milik berdua, yang lain hantu. Xixi. Maaf, jika saya melewati pemandangan tersebut, dengan keras saya Tiiiiii…..nnn (tanpa ju lho!). Jika sedang memakai sepeda, bunyi nyaring keluar, kring kring kring. Lumayan iklan lewat.

Saya memahami debaran hati yang kalian rasakan saat bersama dengan orang yang dicintai. Sungguh saya mengkhawatirkan kalian adik-adikku, seandainya tidak berhati-hati dalam mengendalikan diri, akan berakhir di ruang sepi. Yang akan menimbulkan penyesalan atau bahkan menjadi addict, terjerumus lebih dalam.

Tolong hargai hak jalan, banyak anak-anak lalu lalang, tidak patut bagi mereka menyaksikan ‘edukasi’ secara langsung. Barangkali saya termasuk orang tua yang kolot, bukan berarti menganggapnya sesuatu yang tabu, hanya insya Allah nanti jika waktunya sudah tepat.

Kabut sudah menipis seiring dengan terbitnya matahari di ufuk timur.