Perbincangan Kutilang dan Kenari
Siulan burung bersahutan. Hmm, rupanya mereka sedang bercengkerama dari tempat yang berbeda.
Burung yang satu dari pohon mangga, yang lainnya dari dalam sangkar yang tergantung di sebuah pagar yang tinggi.
Kira-kira begini artinya….
Kutilang : “Sedang apa kamu di sana?”
Kenari : “O, biasalah, bosan ada di sini.”
Kutilang : “Subhanallah, kuperhatikan parasmu elok nian. Bulumu indah. Siapa namamu?
Kenari : “Aku kenari, kalo kena, jangan lari. Ahahaha, kaya koruptor saja. Nehi dahhh! Panggil aku Ken. Kamu?”
Kutilang : “Aku kutilang. Just call me bro pren.”
Kenari : “Wuiiih, manteb bro.”
Kutilang : “Betah kamu di sana Ken? Sangkarmu indah. Makanan ningrat banyak..
Kenari : “Rumah sejatiku bukan di sini. Lama aku tidak terbang. Tidak bisa, sempit. Mereka memenjaraku hanya untuk mendengar dan menjual suaraku. Aku iri padamu…..”
Kutilang : “Suaramu merdu, banyak dicari manusia, pakan tinggal makan……”
Kenari : “Memang benar, tapi aku tidak mengharap itu semua. Kita bangsa burung diberiNYA kemampuan untuk bertahan hidup. Berkelana di udara, berburu kroto, hinggap dari pohon ke pohon. Bahkan bisa narsis foto dengan Ummi yang manis.”
Kutilang : “Aku mengerti, sabar ya Ken. Semoga kamu bisa keluar dari sana.”
Kenari : “Makasih bro. Kuharap manusia sadar. Rumah terbaikku adalah alam. Tempat aku bebas mengepakkan sayap…..”
Biarkan kami melanglang-buana menjelajahi semesta luas.
Senin, 5 Des 2011
Kabar terbaru tentang Ken, Si Burung Kenari, burung senilai tiga juta rupiah ini, tewas dimakan tikus di dalam sangkarnya. Ruangan sempit yang memenjaranya tanpa mampu menghindari predator. Si Kuti nasibnya lebih baik, ia burung merdeka. Si Ken, tumbuh dalam kungkungan kotak sempit, setidaknya ia kini pun telah merdeka menyusul Si Kuti, sahabatnya.




November 11, 2011 pada 09:12
Baru saja pagi tadi dua buah kersen engkau makan dengan lahap kuti…..
Rupanya itu makanan yang terakhir.
Teringat beberapa waktu lalu saat masih mungil dan sayapmu belum mampu mengepak, engkau terjatuh dari pohon…..
Ada pedih yang terasa ketika seekor kucing melahapmu saat engkau riang berkelana di sekitar pohon mangga, tempat yang kau sukai…..
Ya, sudah hukum alam, predator akan memangsa yang lemah…..
Juga hikmah banyak tersebar.
Ajal adalah kepastian yg tidak dapat diduga dan selalu mengintai…..
Bye Kuti…..
Bagiku, engkau adalah sahabat.
Terbanglah engkau dg indah……
November 12, 2011 pada 15:51
kenar. oh kenar…
November 12, 2011 pada 20:36
Terima kasih atas hadirnya.
November 12, 2011 pada 17:07
Sungguh manusia kejam… Memenjarakan burung dmi nafsu…
November 12, 2011 pada 20:44
Fitrahnya terbelenggu.
Semakin banyak yg dikurung, semakin banyak kroto yg diperlukan.
Imbasnya keseimbangan alam terganggu.
Contoh nyata, merajalelanya wabah ulat bulu beberapa bulan yg lalu.
November 12, 2011 pada 17:42
makanya saya gak punya binatang peliharaan… gak tega liatnya..
November 12, 2011 pada 21:39
Alhamdulillah.
Di balik merdu kicau burung, siapa tahu bahasa mereka berkata, “Bebaskan akuuuu!”
Terima kasih telah hadir di rumah kecil.
November 13, 2011 pada 20:34
sama2 bu…
Rumah kecil rumah bahagia.
November 13, 2011 pada 21:50
Insya Allah, aamiin.
November 13, 2011 pada 08:45
terpenjara karena nafsu dan materi atas penguasaan manusia
November 13, 2011 pada 13:53
Kita sering melupakan dampak negatifnya terhadap lingkungan, atas nama hobby.
Terima kasih telah hadir.
Salam karet bundar.