Arsip untuk Oktober, 2011

ALAY

Posted in Catatan Harian on Oktober 31, 2011 by Lia

Kata yang mengemuka sebagai kependekkan dari Anak LAYangan. Kata yang sering disematkan kepada mereka yang berperilaku nyeleneh, out of the box, anti kemapanan, tidak disiplin, semau gue dan sebutan serupa lainnya yang melambangkan keakuan.

Saya coba menelaah, mengapa diidentikkan dengan layang-layang?
Layang-layang, ia permainan yang menyenangkan, seru, dimainkan oleh semua kalangan, anak-anak, remaja hingga orang tua.
Meliuk-liuk di angkasa, ditarik, diulur. Angin. Ya, dengan tekanan dan hambatan dari udara, sebuah layang-layang dapat terbang tinggi (cmiiw).

Anak Layangan. Barangkali karena hal tersebut di atas?
Perilaku yang mudah terombang-ambing oleh lingkungan. Mudah dipengaruhi atau mengikuti suatu trend dengan mengesampingkan fungsi, estetika dan keamanan?
Perilaku labil yang mudah terbawa arus? Mudah naik atau menukik? Bahkan putus dan terjatuh tidak tahu di mana.

Jika padanan langit adalah bumi. Maka ia lambang kestabilan, teguh dan kokoh.
Bagi saya, ia cermin istiqamah, teguh memegang kebenaran kendati pun pilihan dan jalan yang lain tampak begitu indah.

Astaghfirullah, ternyata saya pun masih anak layangan…….

“Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau Beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari Sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).”
(QS. ALI IMRAN 3:8)

 

Dialog Di Sebuah Warung

Posted in Catatan Harian on Oktober 27, 2011 by Lia

Saat pagi…..
Saya                  :  “Bu, tolong white coffee-nya dua.”
Ibu Warung   :  “Ini silahkan.”
Penjual Susu  :  “Bu, white coffee itu kopi hitam?”
Ibu Warung    :  “Bukan dong Pa, kopi putih, kopi luwak.”
Penjual Susu   : “Ooo, saya tidak tahu. Kalau pintar, mungkin saya tidak akan keliling. “

Lucu? Garing atau miris?
Mengapa untuk perbendaharaan Bahasa Inggris dasar (white), yg bahkan telah diajarkan sejak dari TK, tidak diketahui Bapak tersebut?

Hendaknya disadari oleh setiap kita, bahwa belajar itu sepanjang hayat. Jika kita minim akan ilmu, ayo kita gali kembali, buka cakrawala agar pengetahuan kita bertambah. Agar kita dapat menularkan atau setidaknya dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh anak.
Media banyak tersedia. Jikalah tidak terbeli, masih dapat diperoleh dari buku bekas, bahkan koran bekas.
Jangan berhenti karena kendala usia. Justru kita belajar agar anak, generasi penerus kita dapat lebih baik dari orang tuanya.

Ilmu bukan hanya milik mereka yang berpunya. Yang terpenting adalah MINAT dan KEMAUAN untuk memperkaya wawasan agar semakin berkembang.

Bersyukur saat ini, meskipun baru sampai tingkat SMP, masyarakat dapat menikmati pendidikan secara gratis.

Ayo, kita budayakan membaca!
Bukankah ayat Al Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah “Iqra…” (QS. Al ‘ALAQ)

Ketika Iman Bertanya

Posted in Uncategorized on Oktober 25, 2011 by Lia

Kutelusuri setiap sudut, setiap lorong, lama setelah ku pergi. Di manakah rumahku?

Tampak olehku tanahku, kini legam menghitam tertutupi karat-karat maksiat yang mengapa tidak lekas engkau bersihkan?

Aaaah, bukankah telah kutitipkan kepadamu. Pelihara aku! Jagalah rumahku! Apa yang engkau perbuat sehingga kilau bening cahaya ilmu tidak mampu singgah di tanahku?

Lalai! Ya, engkau telah lalai menyapu debu-debu tanahku dengan istihfar.
Nyanyian dan amarah telah menguasaimu!

Lekasss! Lekaslah bersihkan tanahku. Sebelum nafas berhenti dan ruh tercerabut dari dirimu. Dan harus kujumpai rumahku agar aku dapat bersemayam dan kembali menjadi cahaya ketika engkau menjalani setiap liku ganasnya hidupmu.

Ketahuilah, aku adalah iman yang harus hidup di tanah hatimu……

KERING DI NEGERIKU

Posted in Hemat Air, Go Green on Oktober 17, 2011 by Lia

 

Pemandangan yang hampir merata di seluruh pelosok negeri ini. Kerusakan lingkungan yang teramat parah, menimbulkan berbagai dampak merugikan untuk kelangsungan seluruh kehidupan. Kemarau panjang….. Sumber air mengering. Sungai, danau,  kolam, sumur…. Demikian sulitnya bagi sebagian besar masyarakat untuk mendapatkan air bersih. Mereka harus berpeluh, bahkan berdarah-darah naik turun gunung sekedar untuk mencari dua atau tiga jeriken kecil air.

Air sebagai energi vital bagi rakyat menjadi barang langka dan mahal, menjadi komoditas basah yang benar-benar basah bagi pemilik modal. Ya, air untuk dikonsumsi pun bahkan harus dibeli. Mungkin tidak menjadi persoalan besar bagi mereka dengan rezeki berlebih. Tetapi bagaimana dengan rakyat kecil????

Bersyukur, meskipun sumber air di rumah telah kering. Saya tinggal menyambungkan selang plastik dan pipa paralon dari pompa tangan di sebuah kebun yang airnya suburrr…. Alhamdulillah.

Saya menyebut pompa tangan ini dengan POMPA GUJES. :D

Pompa jenis ini memang sudah jarang sekali dipergunakan sebagai alat untuk mendapatkan air. Menurut saya, banyak sekali penghematan yang didapatkan. Hemat listrik, hemat BBM yang notabene dapat memberi sumbangsih bagi penyelamatan lingkungan. Memang kita menjadi keluar tenaga untuk melakukannya. Stop! Jangan mengeluh, ambil sisi positifnya. Air dapat, otot padat, lingkungan sehat, pengeluaran listrik hemat. Banyak sekali nilai lebihnya.

Barangkali ini dapat menjadi alat alternatif selain pompa listrik untuk ke depannya. Mari sahabat, kita gunakan air dengan bijak. Gunakan seperlunya.

Katakanlah:”Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (QS. AL MULK 67:30)

Cerita Hati Temanku

Posted in Sahabat on Oktober 14, 2011 by Lia

Seorang teman berkisah, ketika jarak memisahkannya hingga saat perjumpaan kembali dengan suaminya tercinta adalah saat yang dinantikan. Ia telah bersiap diri, mandi dan berpakaian yang menurutnya rapi. Ia juga telah menyiapkan sebungkus nasi kuning hangat yang telah dibelinya bersama anak sulungnya sedari fajar.

Paaaap, klakson berbunyi. Wahh, akhirnya datang juga, kisahnya. Tentu ia menduga bahwa suaminya merasa lapar setelah melakukan perjalanan jauh. Hmmm, hendak sarapan? Tidak, terima kasih, saya sedang berpuasa, jawab suaminya. ????????? Kecewalah temanku.

Bercerita memang dapat sedikit mengurangi beban hidup. Kepada saya? Duh, siapalah saya yang fakir ilmu ini. Setidaknya dengan mau mendengarkan, ia berharap beban itu dapat berkurang.

Saya coba menggali apa sebenarnya yang tengah ia rasakan. Ternyata tidak semata karena nasi hangat yang tidak bisa ia sajikan. Lebih dari itu, ia yang dulu hitam manis dan kini merasa tinggal kulit hitamnya saja, sudah tidak lagi menarik di mata suaminya, tidak diinginkan.

Ia memiliki pandangan, bahwa benar mengutamakan kecintaan kepada Allah adalah hal yang tidak terbantahkan. Tetapi tanpa mengabaikan akan haknya sebagai istri. Terlebih pertemuan yang teramat terbatas waktu dan jarak.

Bingung saya jawabnya, saya mengerti perasaannya. Yang saya bilang kepada teman saya, bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari takdirNya. Bersabar dan berdo’a saja, seraya introspeksi dan berhusnudzhan kepada suaminya. Ia sedang berusaha agar dicintai Allah, berdo’alah pula agar Allah pun meningkatkan cinta suaminya kepadanya.

ANAK BUJANGKU

Posted in Anakku on Oktober 7, 2011 by Lia

 

Tahukah engkau anakku, hari ini delapan tahun yang lalu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk ummi. Kerinduan yang teramat dalam agar dapat segera memelukmu erat, menggenggam jemari mungilmu, membaui wangi aroma tubuhmu. Hari penuh sejarah saat Ummi diberiNya kepercayaan menjadi seorang ibu…..

Waktu berlalu cepat. Engkau mulai berguling, merangkak, berjalan, menjelajah setiap pelosok rumah. Saat-saat yang menakjubkan. Ada saat Ummi tidak sabar menghadapimu, rengekan dan tangisanmu berbuah pukulan atau cubitan di pahamu….. Maafkan Ummi anakku….. Semua itu tidak berhak engkau dapatkan. Ummi yang memaksakan kehendak untuk dewasa lebih cepat dalam tubuh mungilmu….. Ini keliru, pemahaman yang masih dangkal, egoisme sebagai orangtua, ketidaksiapan akan sebuah penolakan. Iya, engkau tidak bermaksud membangkang, hanya ingin berkata dengan bahasa dan caramu yang terkadang tidak Ummi mengerti…..

Tahukah engkau sayang, setelah semua terjadi, Ummi menjadi lebih sakit dari yang engkau rasakan. Berharap itu semua tidak pernah menimpamu. Berharap ingatan buruk itu lenyap tak berbekas. Karena jika engkau sakit, lukamu menjadi luka menganga di hati Ummi…..

Anakku sayang…..

Kita memang teramat dekat. Tahukah engkau bahwa Ummi tidak dapat selamanya berada di sampingmu. Akan datang suatu masa di mana engkau harus melakukan segala sesuatunya sendiri, tanpa kehadiran Ummi. Seperti sebuah nasehat yang disampaikan nenek buyutmu, percaya dirilah, berdirilah engkau dengan kokoh memegang kebenaran. Agar betapa pun kuatnya pengaruh buruk dari luar, engkau tetap setia di jalan yang lurus.

Anakku sayang……

Hidup di dunia ini memang akan tampak indah dan menyilaukan. Ah Ummi juga masih jauh dari zuhud. Carilah ilmu seluasnya, dapatkan karuniaNya seperlunya. Jangan ikatkan hatimu dengannya. Ingatlah pesan nabi kita agar kita jauhi sikap wahn yang dapat menyebabkan kita cinta dunia dan takut mati. Na’udzubillah min dzaalik…..

Anakku sayang……

Betapa bangganya Ummi padamu. Segala puji dan syukur kepadaNya yang telah memberimu kecerdasan pemikiran. Bahagianya seandainya ummi dapat melihat kepak sayap malaikat saat engkau melangkahkan kaki untuk mencari ilmu. Belajarlah yang tekun wahai anak bujangku…Dalami dan sebarkan kepada setiap insan agar mereka pun dapat mengambil manfaatnya darimu.

Sebaik-baik kita adalah yang memberi manfaat pada sesama. Tentu membahagiakan jika hadirmu dinantikan dengan penuh kerinduan. Ummi memang teramat sangat terbatas, belum bisa menjadi teladan yang baik buatmu. Kita sama-sama belajar yukk, belajar tidak mengenal usia, engkau juga bisa menjadi guru yang baik agar ummi juga tidak lelah belajar menjadi ibu yang baik untukmu.

Anakku sayang……

Teringat Ummi akan nasehat Luqman yang tertulis abadi di dalam Al-Qur’an:

“…..Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar. ” (QS.  LUQMAN 31:13)

Jalan terbentang luas di depanmu. Do’a Ummi menyertai di setiap langkahmu.

Yaa Allah, yaa Rabb…. Saya titipkan anak bujangku, juga anak gadisku padaMu. Bahwa Engkau adalah sebaik-baik Pelindung dan Penolong. Anugerahkanlah mereka keimanan yang teguh, kesehatan jiwa dan raga. Berkahi dan istiqamahkanlah mereka agar selalu menetapi kebenaran. Menjadi pribadi yang mencintaiMu, rasulMu, umatMu, juga kami orang tuanya. Cintailah anak-anakku Ya Allah Yaa Rabb agar bahagia hidup mereka di dunia dan akhirat. Aamiin.

Terakhir anak bujangku sayang, penyejuk mata Ummi, jaga pula adikmu…. Bergenggaman erat kalian meniti jalanNya. Ummi mencintai kalian….

Mencintaimu anak-anakku

Suatu hari di Ganesha

Posted in Catatan Harian on Oktober 2, 2011 by Lia

Ketika itu usia saya masih sekitar sepuluh tahun, saat Ibu saya membawa saya ke sebuah radio kecil di Jalan Siliwangi Bandung untuk mengikuti acara lomba nyanyi.  Saya ingat lagu yang saya bawakan adalah Nyanyian anak gembala yang dinyanyikan oleh Rossa saat dia belum ngetop seperti sekarang ini, namanya pun masih Rossa Ros. Entahlah, apakah ia sendiri masih mengingat lagu ini? Xixixi……

Saya kecil sering dikenalkan Ibu saya dengan berbagai lagu jaman dulu, baik itu lagu anak-anak ataupun lagu yang sedang booming di saat itu. Sebenarnya tidak untuk menjadikan saya sebagai penyanyi, hanya membagi hobby menyanyi yang mengalir kental di keluarga saya. Tidak, ga ada yang jadi artis qo. Yaaaa, sekedar menjadi penyanyi kamar mandi yang sudah lama sekali saya tinggalkan. Hehehe…..

Tentang lagu yang kita harus berhati-hati dalam mencernanya. Tinggalkan syair dan klip penganjur kebebasan yang kebablasan. Bebas itu harus bertanggung jawab. Ingat! Musik dapat menggerakkan. Jika pun sulit untuk meninggalkannya, Marilah memilih musik yang hanya mengarahkan pada kebaikan!

Kebersamaan dan nilai yang ditanamkan di masa kecil memang memberi pengaruh yang sangat besar untuk kehidupan di masa datang. Masa indah yang tidak akan pernah terulang kembali. Sekarang, giliran saya, giliran kita sebagai orang tua, mari kita selalu belajar dan berusaha  menanamkan nilai-nilai positif, untuk bekalnya kelak agar dapat survive dan tangguh menjalani hidupnya di masyarakat.

NYANYIAN ANAK GEMBALA

Nyanyian anak gembala. Mengetuk kesunyian pagi hari. Kau berlagu tentang jeritan hati. Mengapa tanahku tak seindah dahulu?

Nyanyian anak gembala. Bertanya pada diri sendiri. Mengapa tanahku kering dan mati? Dan kicauan burung semakin menyepi.

Nyanyian ini…. Nyanyian si anak alam, yang tak pernah tahu kemajuan jaman.Yang tak pernah lepas, pada tempat ia dilahirkan…..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.